close

Diusulkan oleh koalisi PMII, GMNI dan HMI.

Surabaya, PRN – Meski bisa disebut ‘masih lama’ terkait pelaksanaannya, namun efouria Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya 2020 sudah menunjukan geliat. Reaksi ini ditunjukan tiga organisasi kemahasiswaan, yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Himpunan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Jawa Timur, bersepakat untuk mendorong lahirnya tokoh muda terjun di politik praktis.

Langkah ini perlu diambil anak muda guna menyambut adanya bonus demografi Jatim pada 2019 mendatang. Salah satu yang menjadi perhatian para aktivis mahasiswa ini adalah kota Surabaya yang mana akan menggelar Pilwali pada tahun 2020 mendatang.

“Salah satu daerah yang menjadi perhatian kita, adalah Surabaya, karena Kota Surabaya menjadi role model bagi daerah-daerah lain di Jawa Timur,” kata Ketua Badko HMI Jatim, Yogi Pratama di Surabaya, kepada jurnalis, Rabu (19/12/2018) kemarin.

Sebagai kota maju, lanjut Yogi, Surabaya sudah sepatutnya dipimpin oleh kalangan muda. Hal ini guna menjawab tantangan para pemuda terutama menghadapi revolusi industri 4.0. Pasalnya, pemuda diyakini minim kepentingan dan menjadi tonggak pembangunan masa depan.

“Yang harus memimpin kota sebesar Surabaya ini ya orang memiliki visi yang visioner dan progresif. Dan itu ada pada seorang pemuda. Karena, representasi pemuda dalam pemerintahan, adalah solusi pada pemuda itu sendiri,” dalih Yogi.

Artinya ini peluang bagi Surabaya untuk memulai proses pembangunan dengan menciptakan youth government. Dimana pemerintahannya itu terdiri dari orang-orang muda.

Hal senada dilontarkan Ketua DPD GMNI Jatim, Nabrisi Rohid yang menyebut, pemimpin kota Surabaya mendatang bisa saja kolaborasi dari kalangan senior dan anak muda, hal ini guna menyambut perkembangan era digital yang kian tak terbendung.

“Tidak harus walikota dan wakil walikotanya dari kalangan muda. Minimal, satu diantaranya. Kalau nantinya tua-tua yang memimpin tentu perkembangan teknologi akan terhambat. Biar terjadi balance, saya pikir anak muda juga perlu tampil dalam persoalan Pilkada,” tegas Rohid.

Sementara itu, Ketua PKC PMII Jatim, Abdul Ghoni beropini, pemuda saat ini seharusnya banyak mengambil peran dalam bidang politik.

“Antipati terhadap politik adalah pilihan yang salah. Kiprah pemuda sangat ditunggu,” cetus Ghoni.

Dia lantas menyentil aktivitas politik para politis senior yang selalu tampil seolah-olah muda dan millenial guna mendapatkan dukungan dari kalangan muda. Menurut dia, itu menunjukkan kalau ternyata ada banyak ruang bagi pemuda untuk terjun dalam politik praktis.

 “Sekarang kan banyak politisi bergaya dan pura-pura seperti milenial. Itu sebetulnya menjadi peluang kita para pemuda. Karena para politis senior itu sangat faham potensi anak muda,” beber Ghoni.

Ditambahkan, realitas politik saat ini sesungguhnya membutuhkan peran anak muda. Termasuk kota Surabaya dengan segudang kompleksitas persoalan yang muncul.

“Sangat perlu anak muda untuk terjun ke wilayah politik. Semangatnya harus berjuang di bidang politik. Kita harus berfikir tentang kepentingan bangsa dan masyarakat. Politik itu akan melahirkan sebuah kebijakan,” tegas Ghoni.

Menurutnya, keberadaan anak muda dalam panggung politik cukup menjanjikan untuk membawa perubahan bangsa yang lebih baik. Pasalnya, banyak kepala daerah muda saat ini yang terbukti berhasil dan sukses memimpin daerahnya.

“Saat ini banyak lahir pemimpin politik dari kalangan muda yang sudah tampil dan membawa perubahan dan warna yang baru. Ada mas Emil Dardak yang jadi Wagub Jatim dan banyak juga kepala daerah yang dari kalangan muda,” imbuhnya.

Sementara terkait sosok muda yang pantas maju dalam Pilwali Kota Surabaya mendatang, baik dari PMII, HMI dan GMNI masih belum berani mempublikasikan. Mereka bersepakat untuk melakukan inventarisir dan melakukan kajian mendalam terhadap tokoh-tokoh muda yang dinilai layak didorong maju di Pilwali Kota Surabaya. (tim)

Tags : Calon Wali KotaGMNIHMIPilwali SurabayaPMIISurabaya

Leave a Response

*