close
LAWAN KORUPSI

“Modus Pungli” Dilarang Jual Buku LKS di Sekolah,  Foto Copy Jadi Sasaran

PRN MOJOKERTO – Terlihat jelas penegakan hukum terkait upaya pemerintah dalam pemberantasan praktik pungutan liar (pungli) didunia pendidikan belum dapat dikatakan maksimal,  pasalnya masih banyak wali murid yang mengeluh beratnya biaya lain-lain untuk siswa dengan modus yang beraneka macam. 12/8

Seperti yang dikeluhkan sebut saja Fatimah (bukan nama sebenarnya, red), dirinya memiliki anak yang sekolah di SMPN 1 Kutorejo Kabupaten Mojokerto merasa berat dengan adanya berbagai pungutan kenaikan kelas dari kelas VII ke kelas VIII.

“Katanya ada bantuan BOS dan lain-lain dari pemerintah, kok masih narik saja” ungkap salah satu wali murid SMPN 1 Kutorejo kepada awak media saat di pasar Dlanggu.

Seklumit rincian yang harus ditanggung oleh siswa kelas VII SMPN 1 Kutorejo,  saat perkemahan beberapa saat yang lalu per siswa dikenakan Rp. 3.000,-, pembelian 10 item buku LKS Rp. 127.000.- dan yang dirasa terlalu memberatkan adalah pembelian kostum olah raga dan atribut yang mencapai Rp. 325.000.-

Lebih lanjut menurut Cipto selaku Humas SMPN 1 Kutorejo saat ditemui di ruang kerjanya,  dirinya sangat membenarkan informasi yang didapat awak media PRN,  bahkan Cipto juga menjabarkan untuk penjulan buku LKS pihak sekolah harus memakai pihak ke 3 atau foto copy WAHYU ABADI  untuk menjualnya biar terkesan siswa beli di toko, pasalnya penjualan buku LKS di sekolah dilarang.

Masih dalam keterangan Cipto,  dirinya tidak berani memberikan keterangan yang lebih mendetail,  karena untuk LKS ini menjadi kewenangan Kepala sekolah dan sudah menjadi kesepakatan MKKS.

Sementara perihal pembayaran Rp. 325.000.- , Cipto tanpa beban membenarkan bahwa anggaran itu memang ada, pembayaran itu dialokasikan untuk pembelian satu stel kostum olah raga dan atribut sekolah.

Dipihak lain menurut Taufiq selaku aktifis anti korupsi dan juga sebagai wartawan menyayangkan pungutan yang ada di SMPN 1 Kutorejo, Taufiq yang juga sebagai alumni sekolah dimaksud menilai pihak sekolah terkesan mencari keuntungan dalam pungutan terutama seragam olah raga, hanya untuk sepasang kaos dan trining anak-anak saja masak mencapai 325 ribu, terlalu. Pungkas Taufiq.

Sampai berita ini diturunkan awak media belum dapat menemui Kepala SMPN 1 Kutorejo. (sh07/piq).

Tags : MojokertoPungli Tingkat Sekolah

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: