close

HIBURAN, SENI & BUDAYA

HIBURAN, SENI & BUDAYA

Pasar Djadoel Jadi I Con Wisata Ngawi

PRN Ngawi – 26 – 1 – 2020, Animo Masyarakat Kabupaten Ngawi maupun luar Kabupaten Ngawi seperti Kabupaten Madiun, Sragen, Ponorogo, Pacitan, Magetan, Bojonegoro maupun Kota Solo akan pasar djadoel Tawun terbukti, dengan pengunjung yang mencapai 5000 orang yang memadati tempat Wisata Tawun Kecamatan Kasreman Kabupaten Ngawi yang selalu membuat kangen untuk datang lagi disetiap Minggu legi tetap jadi daya tarik sendiri.

Peggy Camat Kasreman saat ditemui awak Media mengatakan, bahwa untuk pasar djadoel Tawun ini setiap bulan jumlah pengunjung selalu meningkat, karena keunikanya pula dalam membeli makanan atau jajanan di area pasar djadoel, semua uang rupiah harus ditukar dengan coin kreweng ,makanan atau jajanan tentunya semua juga djadoel atau kuno, seperti gethuk, utri, cenil, tape, kolak, es dawet, tepo tahu, tepo pecel dan masih banyak lagi makanan jawa yang disediskan bagi pengunjung bahkan untuk alat masak yang dijual juga berbahan tanah liat dan bambu.

Pengunjung juga dihibur kesenian keroncong dari Disparpora yang digawangi mas Daniel, serta kesenian cokekan dari Desa Kedungprahu Kecamatan Padas ( Aligator laras ) yang membawa penyanyi cantik ( waranggono ) yang memiliki suara merdu, untuk menghibur semua pengunjung.

Harapan Rudy Kadin Disparpora Kabupaten Ngawi, untuk tempat wisata tawun ini tetap harus terus dibenahi agar dapat bersaing dengan tempat wisata yang lain sehingga jadi buming serta dapat dijadikan I Con wisata Ngawi yang menarik dan baik. (Jatmiko)

baca selengkapnya
HIBURAN, SENI & BUDAYA

Hidupkan Budaya Lokal, Warga Dlanggu Kirim Doa di Makam Mbah Taslim

PRN MOJOKERTO – Indonesia terkenal dengan kultur budaya dan sejarah yang sudah diakui dunia, dari Majapahit, Troloyo (Syeh Jumadil Kubro) dan lainnya, namun masyarakat lokal juga tidak meninggalkan sejarah terbentuknya wilayah seperti halnya Dlanggu.

Dlanggu, tepatnya desa Sroyo sudah terkenal seantero jagat terdapat makam bersejarah yaitu “Makam Mbah Taslim”

Hari ini Jumat Wage masyarakat desa Sroyo dikawal oleh kepala dusun dan Kaur Kesra memimpin doa (Tahlil) bersama untuk mendoakan Mbah Taslim di halaman makam.

Kilas balik sejarah Mbah Taslim adalah seorang wali dan merupakan murid atau jama’ah dari Pangeran Diponegoro yang berasal dari Mataram. Mbah Taslim seorang murid Pangeran Diponegoro yang tidak menikah dan tidak mempunyai anak. Beliau dijuluki sebagai Ma’rifat, yaitu orang yang sakti dan keturunan wali. Pada tahun 1825 Mbah Taslim bersama muridnya yang bernama Mbah Abdullah Husen, Mbah Tayib mereka hijrah ke saerah Sasap Mojokerto.

Sekitar Tahun 1827 Mbah taslim meninggalkan murid-muridnya di sasap, beliau menyuruh murid-muridnya untuk menetap di Sasap Mojokerto. Sedangkan Mbah Taslim meneruskan perjalanannya ke Brangkal dan berakhir sampai di dusun Sroyo Desa Dlanggu Mojokerto. Dan saat itu ada Sayembara “Sapa sing iso mbabat alas wono sroyo wiwitan lor nganti kidul”. Kemudian Mbah Taslim mulai babat alas daerah wono sroyo, sewaktu melakukan babat alas tinggal sedikit, Mbah Taslim mengalami kesulitan yaitu di bagian barat daerah sroyo selalu muncul sinar atau cahaya (yang sekarangjadi tempat makamnya Mbah Taslim).Kemudian Mbah Taslim memberi nama Dusun Wono Sroyo dan sekarang berubah menjadi Dusun Sroyo. Di Dusun Sroyo Desa Dlanggu itulah Mbah Taslim menyebarkan agama islam sampai beliau wafat dan dimakamkan di Dusun Sroyo Desa Dlanggu Mojokerto. Sampai sekarang makam Mbah Taslim masih banyak yang mengunjungi dari berbagai kalangan,dan tempatnya pun masih dirawat dengan baik oleh warga Sroyo Dlanggu (dikutip dari disparpora.mojokertokab.co.id). (sh07/Taufik).

baca selengkapnya
HIBURAN, SENI & BUDAYA

Kapolres Bantaeng dan Dandim 1410 Bantaeng Vicon Bersama Kapolri Bahas PAM Natal dan Tahun Baru 2020

PRN BANTAENG- Bantaeng Akbp Wawan Sumantri ST,SH,MH. beserta Komandan Kodim 1410 Bantaeng Letkol. (CZI) Tambohule Wulaa hadiri Video Confrence (Vicon) Rapat Koordinasi (Rakor) Bidang Operasional dalam rangka persiapan Operasi Lilin Tahun 2019, di ruang Vicon Mapolres Bantaeng Jalan Sungai Bialo Kecamatan Bantaeng , Jum’at (13/12/2019).

Selain Dandim dan Kapolres Bantaeng, turut hadir Kabagops Polres Bantaeng, Kasatlantas, Kepala Dinas Perhubungan, jasa raharja, Dinas PU, Dinas Pariwisata dan Kesehatan.
Dalam arahanya Kapolri Jenderal Polisi Drs. Idham Azis, M.Si mengatakan,” Rapat lintas sektoral ini bertujuan untuk pengamanan menjelang Natal dan Tahun baru 2020 yang akan datang, oleh untuk itu kita harus mempersiapkan pengamanan agar tidak terjadi hal hal yang tidak di inginkan, sehingga masyarakat yang akan melaksanakan ibadah natal bisa merasa aman dan nyaman”.

“Kita akan cek secara bertahap dengan melakukan operasi- operasi untuk antisipasi, dan jalur jalur kemacetan yang akan di gunakan untuk mudik sehinga masyarakat bisa nyaman dalam perjalanan, perlu di pedomi bagi Prajurit jangan lengah melaksanakan pengamanan dengan bodi sistem sehingga tidak ada kerugian yang tidak diinginkan bagi prajurit”, Ujar Kapolri.

Sementara Panglima TNI menyampaikan “Terimakasih atas kerjasama seluruh intansi yang terlibat dalam pengamanan Natal dan Tahun baru, semoga perayaan natal dan tahun baru ini berjalan dengan aman dan tertib”.

“Momen penting yang melibatkan masyarakat dalam pelayanan angkutan bagi warga yang akan mudik terutama yang di butuhkan adalah rasa aman, untuk itu petugas keamanan harus selalu siap dalam menjalankan tugasnya, sehingga masyarakat merasa tenang dalam perayaan natal, perlu di waspadai bahwa saat ini memasuki musim penghujan, jadi di himbauan untuk petugas agar selalu mengingat warga yang akan melaksanakan perjalanan jauh untuk utamakan keselamatan”.

“Kami dari TNI selalu siap untuk membantu pengamanan natal dan tahun baru, oleh karena itu TNI di wilayah sudah siap dengan personil yang akan di butuhkan dalam pengamanan”, Pungkas Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. (Syam).

baca selengkapnya
HIBURAN, SENI & BUDAYA

Konser Guyon Waton di Hari Kesehatan Nasional Berakhir Ricuh

PRN KEDIRI – Konser guyon waton yang di gelar di stadion Brawijaya pada tanggal 6 Desember 2019 acara yang diadakan pemerintah kota kediri untuk menyambut ( HKN) hari kesehatan Nasional melalui dinas kesehatan kota Kediri berakhir ricuh.

Di lagu yang kelima acara ini di hentikan oleh aparat keamanan di karenakan situasi yang tidak mungkin untuk di lanjutkan walau banyak penonton yang kurang puas.

Punncak kegiatan (HKN) kali ini di kemas dengan berbagai lomba dan dengan mengundang group musik menjadikan tema sosialisasi melalui media elektronik dengan berakhir ricuh tawuran antar penonton padahal pihak Panpel sudah menyiapkan keamana 350 personil terdiri dari Polri, Satpol PP , dan dari dinas perhubungan ribuan orang yang bercampur berjoget di lapangan yang Akhirnya terpicunya kericuhan.

dr Fauzan Adima sebagai kepala dinas kesehatan bahwa acara kegiatan malam ini merupakan puncak peringatan (HKN ) dengan mengusung tema generasi sehat Indonesia unggul dengan salah satunya menjaga kesehatan berkumpul di lapangan ini sambil bercanda dan menikmati tontonan dari lagu lagu ini hiburan dan menghilangkan stres supaya semua terhibur adik yang sekolah bisa melepas sejenak stres karna pelajaran sekolah dengan menonton hiburan guyon waton menghilangkan stres adalah salah satu cara meningkatkan kesehatan begitu tutur Dr Fauzan.

Harapan acara berjalan damai dan lancar namun di awal sudah mulai terlihat kegaduhan dengan perang sandal namun bisa di lerai petugas keamanan, kericuhan kembali pecah du sebelah selatan panggung atau tepatnya di dekat tempat tamu undangan dan walikota Kediri mas Abu bersama perwakilan dan Forkompinda.

Menyikapi hal itu Kabag OPS polres kota Kediri Kompol Abraham Sisik kepanggung dan menyerukan apabila situsi tidak bisa kondusif maka acara konser akan di hentikan. (Bambang)

 

baca selengkapnya
HIBURAN, SENI & BUDAYA

Lepas Peserta Karnaval, Bupati Bantaeng Minta Masyarakat Pertahankan Nilai Budaya

PRN Bantaeng – Menjelang Hari Jadi Bantaeng (HJB) ke-765 yang diperingati tanggal 7 Desember 2019, Pemerintah Kabupaten Bantaeng menggelar Karnaval Budaya pada Kamis (05/12/19).

Diikuti ribuan peserta dari 8 kecamatan yang ada di Bantaeng. Tiap kontingen mengikutkan ratusan warga masyarakat beserta jajaran Pemerintahan di tingkat Kecamatan maupun Desa dan Kelurahan di wilayahnya.

Karnaval itu dibuka secara resmi Bupati Bantaeng, H Ilham Azikin. Diiikuti dengan pelepasan sekaligus menyaksikan peserta menampilkan beragam pertunjukan seperti rebana, a’manca’ (silat tradisional khas Sulawesi), tarian, ritual prosesi perkawinan, kecapi dan marching band.

Dikatakan karnaval itu merupakan ruang aktualisasi bagi anak-anak muda maupun masyarakat secara umum untuk senantiasa bergerak mempertahankan nilai-nilai budaya di Kabupaten Bantaeng.

“Mari kita senantiasa mempertahankan nilai-nilai budaya. Semoga menjadi komitmen kebersamaan kita melalui Festival dan Karnaval Budaya ini”, pintanya.

Hadir dikesempatan sama diantaranya Ketua DPRD Kabupaten Bantaeng, Hamsya Ahmad, Wakil Bupati Bantaeng, H Sahabuddin, Kapolres Bantaeng, Wawan Sumantri, Dandim 1410 Bantaeng, Tambohule Wulaa dan unsur Forkopimda lainnya.

Termasuk Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantaeng, Hj Sri Dewi Yanti yang mendampingi Ilham. Selain itu hadir pula Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Bantaeng, Hj Rahma Arsyad, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Bantaeng, Vinka Nandakasih serta para Asisten dan Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemerintah Kabupaten Bantaeng.

Ditambahkan Bupati yang akrab disapa IA bahwa karnaval itu momen tepat untuk mempersembahkan kepada masyarakat bagaimana seharusnya budaya dapat mencirikan kearifan lokal.

“Saya Ilham Azikin membuka Karnaval Budaya hari ini. Semoga bisa menjadi wujud kecintaan kita pada Kabupaten Bantaeng”, tuturnya.

Hingga finish, IA bersama Sri dan para pejabat teras daerah ini tetap setia menyaksikan karnaval. Sebagian peserta bahkan menyiapkan persembahan berupa paket makanan seperti kue ataupun komoditi khas asalnya semisal buah mangga.

Disamping karnaval budaya antar kecamatan pada siang hingga sore itu juga diikuti puluhan Tukang Becak yang menghadirkan becak hias yang kental dengan nuansa HJB ke-765 yang mana tahun ini mengusung tema “Selangkah Lebih Jaya”. (syam)

baca selengkapnya
HIBURAN, SENI & BUDAYA

Lounching Kampung Batik Sidomukti Hadirkan Dua Desainer Kondang dari Surabaya 

PRN Magetan – bertempat di balai desa Sidomukti kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan berlangsung kegiatan Lounching Kampung Batik Sidomukti dan talk show bersama Embran Nawawi S.ds M.s dan Ulfa Mumtaza yang asli kelahiran Magetan yang sekarang menjadi desainer kondang dari Surabaya. Acara ini dibuka oleh Bupati Magetan Suprawoto. (Kamis 5/12/2019)

Pada kesempatan ini Bupati Magetan menyampaikan” Kita harus jemput bola, sehingga harus ada inovasi inovasi dalam design batik Magetan” ujarnya.

Saat Pena Rakyat News menanyakan apakah program yang akan dilakukan pemda dalam mensuport Kampung Batik Sidomukti ini Bupati Menjawab”Sebagai pemerintah kita akan menciptakan iklim usaha yang mensuport batik Magetan agar bisa berkembang sesuai dengan potensi masing masing desa”, ujarnya.

Embran Nawawi Sds, Ms. menjelaskan “Perlu ada motif sekar jagad, agar ikon batik Magetan selalu eksis, Selain itu ada keprihatinan saya yaitu di Magetan belum banyak designer, kami ingin agar Magetan ada Batik Akademi, agar bisa menjadi salah satu destinasi wisata, kami juga menginginkan agar ada designer designer muda yang ikut melestarikan batik Magetan.”tandasnya.

Sucipto kepala dinas Perindag kab Magetan mengatakan “untuk mendukung batik dan IKM kab Magetan bulan Desember ini akan di resmikan toko IKM di Jalan Diponegoro depan pintu masuk Jalan Sawo Kab Magetan yang akan menjadi pusat penjualan produk IKM kab Magetan “ujarnya.

Sementara itu Supeno Kepala desa Sidomukti mengatakan ” Dengan adanya kampung Batik ini kami harapkan kedepan pemerintah Kabupaten Magetan, bisa terus mensuport kegiatan Kampung Batik di Sidomukti. “ujarnya.

Video kegiatan ini bisa di klik di http://www.youtube.com/c/BeniSetyawanMagetan (jurnalis Beni Setyawan)

baca selengkapnya
HIBURAN, SENI & BUDAYA

PURA AGUNG UDAYA PARWATA TAMBORA

Penulis :Ki Wiro Pondok Tlasih 87

Pura Agung Gunung Tambora yang terletak di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini sangat terkait dengan Perjalanan Danghyang Nirarta dari kerajaan Daha menuju Tambora sekitar tahun 1478-1560. Hal itu menurut Dr.Soegioanto Sastrodiwiryo dalam bukunya berjudul: Danghyang Nirarta: Sebuah Dharmayatra (1478-1560) dari Daha ke Tambora, jauh sebelum Gunung Tambora meletus (1815) pada bulan Phalguna 1532 Masehi.

Danghyang Nirarta yang telah berusia 80 tahun setelah melaksanakan Dharmayatra di Pulau Lombok, memutuskan berlayar menuju Pulau Sumbawa menggunakan perahu, disertai nelayan Lombok yang pernah dibantu saat mereka terdampar di Mojok Batu (di pantai/pura Ponjok Batu- sekarang) di Singaraja. Selanjutnya, beliau melewati Teluk Taliwang hingga berlabuh di Teluk Sumbawa.

Kedatangan Danghyang Nirartha disambut Kepala Desa dan tokoh masyarakat setempat yang kebetulan saat itu kehidupan masyarakat di sana sedang kesusahan, akibat gagal panen akibat diserang hama penyakit. Atas permohonan kepala desa itu, akhirnya Danghyang Nirartha terpanggil membantu masyarakat petani dimaksud.
Beliau lantas memerintahkan masyarakat setempat untuk mengisi sawah dan ladangnya dengan padupaan yang berisi api dan kemenyan. Dengan memohon kepada Tuhan dan Dewa yang berstana di Gunung Tambora, keesokan harinya tiba-tiba hama penyakit berupa ulat dan belalang itu lenyap tanpa bekas. Karenanya, sejak itu masyarakat memanggil beliau dengan sebutan Tuan Semeru.

Mencermati sejarah Dharmayatra beliau, ada dua motivasi Danghyang Niratha melaksanakan Dharmayatra ke Pulau Sumbawa yakni, karena rasa kekaguman dan kerinduan yang mendalam untuk melihat Gunung Tambora ke dalam rasa keagamaannya membayangkan bagaimana Siwa (Tuhan) menjejakkan kakinya saat membangun tiga dunia. Beliau merasa bahwa jejak Siwa yang paling timur adalah Gunung Tambora. Beliau berharap agama Hindu masih bisa dipertahankan keajegannya di daerah ini.

Di samping itu, adanya hasrat yang besar untuk bertemu dengan kerabat leluhurnya yang merupakan seorang Brahmana Siwa yang sebelumnya diutus dan ditugaskan Raja Majapahit (tahun 1344 Masehi) untuk menaklukkan raja-raja di Sumbawa.
Setelah armada Majapahit di bawah pimpinan Mahasenopati Nala berhasil menaklukkan raja- raja yang ada di pulau Sumbawa. Danghyang Nirartha berharap dapat bertemu dengan putra-putri beliau, atau setidaknya bisa bertemu dengan cucu seangkatannya.
Setelah mendapat informasi dari penduduk Sumbawa, bahwa kerabatnya telah lama meninggal, Beliau pun melanjutkan perjalanan ke Gunung Tambora, masuk ke Teluk Saleh melewati celah antara pulau Sumbawa dan pulau Moyo dan akhirnya sampai di pelabuhan di lereng selatan Gunung Tambora.

Saat itu, Gunung Tambora yang puncaknya tampak perkasa sesekali mulai mengeluarkan asap dan lidah api. Di pelabuhan itu, beliau kemudian disambut penghulu kaya dan rajin. Penghulu itu ternyata telah lama mendengar kehebatan beliau, karenanya begitu bertemu dengan beliau, penghulu itu memelas agar bersedia membantu menyembuhkan anaknya yang telah lama menderita suatu penyakit dan sangat sulit disembuhkan serta berbagai upaya dan usaha telah dilakukan tetapi satu pun tidak berhasil.
Selanjutnya Danghyang Nirartha mencoba mengobati dengan segala kemampuannya. Akhirnya anak penghulu itu pun berhasil dibantu. Sebagai ungkapan terima kasih penghulu itu merelakan anaknya diajak ke Bali. Selama berada daerah ini, Danghyang Nirartha kerap melakukan payogan. Salah satunya adalah di sekitar lokasi Pura Agung Gunung Tambora dimaksud. Seperti halnya di tempat lain, di manapun beliau pernah beryoga, tempat itu selalu menjadi tersohor karena biasanya tempat dimaksud mampu memancarkan aura spiritual yang sangat tinggi. Tak heran jika sebagian besar jejak perjalanan beliau, kini dibangun sebuah tempat yang megah serta banyak umat yang datang memohon anugrah sekaligus tuntunan spiritual beliau, tak terkecuali di Pura Agung Gunung Tambora yang mampu memancarkan aura kesejukan, kedamaian, dan ketenangan serta spiritual yang sangat kuat dan tinggi.

Tanjung Menangis.

Setelah dirasa cukup menunaikan tugas sucinya, serta puas berada di daerah ini, lanjut Jro Mangku Gede Tambora yang mantan pengerajin perak dan emas ini, beliau memutuskan kembali ke Bali. Namun, masyarakat di sana merasa sangat kehilangan dan sedih ketika beliau mengutarakan niatnya itu, bahkan sejumlah warga bersikeras agar beliau tetap berada di sana, tetapi itu tidak mungkin dilakukan. Akhirnya, dengan berat hati, masyarakat itu melepas kepulangan beliau dengan rasa haru dan sedih.
Sebagai rasa hormat dan bhaktinya kepada beliau, masyarakat lalu mengantar beliau beramai- ramai sekaligus berpisah di sebuah tanjung yang kemudian tanjung itu diberi nama Tanjung Menangis. Dinamakan seperti itu karena kepergian beliau diiringi dengan isak tangis.

Selanjutnya beliau kembali melalui pantai utara Lombok, dan pada April Icaka 1455 tiba di pelabuhan Kusamba serta langsung menuju ibukota Gelgel. Sampai di Bali, anak penghulu yang dibawa itu diberi nama Denden Sari. Setelah dewasa Denden Sari kemudian dinikahkan dengan cucunya Danghyang Nirartha bernama Ida Ketut Buruan Manuaba. Merekalah kemudian menurunkan Klen Manuaba sampai saat ini.

Lebih jauh Jro Mangku yang dikenal kaya pengalaman ini menjelaskan, Pura Gunung Tabora yang terletak di kaki Gunung Tambora tepatnya 146 Km dari Kota Dompu ini, merupakan Pura Kahyangan Jagat yang ada di NTB. Pura ini sangat dikeramatkan umat Hindu di Kabupaten Bima, Dompu, dan Sumbawa serta penduduk lain di sekitar pura.

Setiap Pujawali yang jatuh pada Purnamaning Sasih Kasa, umat Hindu di tiga kabupaten dimaksud berduyun-duyun tangkil ngaturang sembah bakti memohon anugrah sekaligus tuntunan spiritual beliau, serta permohonan lainnya. Banyak permohonan pamedek yang dilakukan dengan penuh ketulusan dikabulkan oleh beliau, sehingga tak heran jika seiring berjalannya waku, terutama pada waktu dan hari-hari tertentu pura ini ramai dikunjungi umat Hindu bahkan umat non-Hindu dengan tujuan tertentu.
“Pura ini dibangun atas petunjuk Ida Peranda Gede Putra dari Griya Cempaka, Singaraja yang sedang melaksanakan tirtayatra ngetut pemargin Danghyang Nirarta ke Pulau Sumbawa. Lokasi pura ditentukan melalui petunjuk yang diterima Ida Peranda melalui konsultasi niskala dengan beliau yang berstana di pura ini, akhirnya di sinilah tempat yang paling tepat,” ujar Jro Mangku Gede Tambora menegaskan seraya menambahkan, bahwa lokasi di mana pura ini didirikan, diyakini sebagai tempat payogan Danghyang Nirartha saat melaksanakan dharmayatra di daerah ini. Astungkara.

baca selengkapnya
HIBURAN, SENI & BUDAYA

URI-URI TEMBANG JOWO eds. ENERGI MAGIS KIDUNG

Ana kidung rumeksa ing wengi,
Teguh hayu luputa ing lara,
Luputa bilahi kabeh,
Jim setan datan purun,
Paneluhan tan ana wani,
Miwah panggawe ala,
Gunane wong luput,
Geni pan temahan tirta,
Maling adoh tan wani perak ing mami,
Guna duduk pan sirna.

Bunyi syair kidung di atas sangatlah falimier favorit di telinga masyarakat secara turun-temurun hingga kini.

Konon syair kidung tersebut di atas memiliki daya magis linuwih untuk segala keperluan terlebih pengobatan, apa betul demikian?

Sepuluh tahun yang lalu masih tidak begitu banyak orang yang mampu mengerti atau bisa melantunkan kidung tersebut kecuali hanya orang-orang tua saja, namun kini setelah kemajuan teknologi digital begitu pesat dan cepat masyarakat bisa memahami kidung tersebut terlebih anak-anak muda yang pinter mengakses /copy serta mendengarkan lantunan tembang kidung secara terus menerus hingga hafal, setelah hafal dan bisa melantunkan kidung tersebut dengan sangat baik dan benar, apakah kidung tersebut memiliki daya magis linuwih? Jawabnya tentu tidak, apa alasannya? Alasannya ; kidung warisan nenek moyang kita ini adalah penuh dengan liku-liku sandi sastra pralampitha yg harus terpenuhi.

Kalau anda belum mampu atau berani menyiapkan sastra pralampitha yang berupa Yoga Samadi, sesaji dll janganlah berharap lebih datangnya daya linuwih magis kidung tersebut, maka dari itu semua tergantung pada diri sendiri, nuwun

Hayu hayu jaya jaya Wijaya
Rahayu Mulyaning jagat.

Dirilis ulang oleh : Pondok Telasih 87.

baca selengkapnya
HIBURAN, SENI & BUDAYA

URI-URI SEJARAH NUSANTARA eds. SESAJEN (SAJEN)

Penulis : Ki Wiro Kadeg
Sejarah sesajen atau Sajen adalah sejenis persembahan kepada Dewa atau Arwah Nenek moyang pada upacara adat dikalangan penganut kepercayaan kuno di Nusantara, seperti kita lihat pada Suku Sunda, Jawa, Bali, dan suku lainya. Menurut Filsafat Sunda, Sajen asal katanya dari Sesaji.. Yang mengandung makna Sa-Aji-An, ada kalimah yang disimbolkan dengan bahasa rupa bukan bahasa Sastra, dimana didalamnya mengandung Mantra atau kekuatan Metafisika/Supranatural.                                                                          Kata Sajen.. berasal dari kata Sa dan Ajian,

Sa… Bermakna Tunggal sedangkan Aji.. Bermakna Ajaran. jadi Sa Ajian adalah merupakan Ajaran yang Tunggal dalam menyembah pada Tuhan Yang Maha Esa. Sajen atau Sesajen mengisyaratkan bahwa keganasan & kedinamisan Alam semesta dapat diatasi dengan upaya menyatukan diri dengan Alam, hidup yang selaras & harmonis dengan Alam. Sehingga terjadi keseimbangan antara Manusia sebagai Mikrokosmos/ jagad Alit dan Alam Semesta sebagai Makromosmos/ jagad Ageng….

Jaya Wijayanti Adat & budaya Nusantara..
Hayu.. Hayu..hayu…Rahayu Nir ing Sambekala.. (Telasih 87)

baca selengkapnya