30.8 C
Mojokerto
BerandaMATA LELAKIBalada Cinta Sang Kades, Janji Manis Tak Seindah Kenyataan

Balada Cinta Sang Kades, Janji Manis Tak Seindah Kenyataan

PRN BOJONEGORO| Prilaku Oknum Kades di wilayah Kecamatan Mojo Lamongan, jauh dari kata terpuji. Setelah “gendaan” dengan perempuan asal Bojonegoro hingga hamil dan dinikahi siri, anak tidak diakui dan ditinggal.

Fakta ini sempat dituturkan oleh Ning (penggalan nama aslinya) melalui kuasa hukumnya Zaenal, SH., MH. dalam keterangannya kepada redaksi Pena Rakyat News dijelaskan bahwa klien nya dijanjikan untuk dibuatkan akte lahir anaknya yang mencantumkan nama ayahnya.

Setelah menjadi Kades, janji manis tak seindah kenyataan. Merasa diiming-iming, Ning meminta pertanggungjawaban terhadap kelangsungan hidup anak perempuan dari hasil hubungannya dengan Kades MZL (inisial, red).

Zaenal menambahkan di awal kelahiran pada 18/11/2020, sang Kades MZL yang awalnya belum menjabat sebagai Kades, terlihat senang atas kelahiran anaknya. Seakan disambar petir setelah MZL mencalonkan menjadi Kades dan terpilih dan Ning juga ikut mendanai pencalonannya,  MZL  terlihat menghindar dan sempat berucap tidak mengakui si kecil ini adalah buah cinta mereka.

“Ning intinya tidak terima dengan perlakuan Kades dan menuntut keadilan baik kekeluargaan atau secara hukum, sebab hubungan antara Ning dan MZL melahirkan anak perempuan dan Ning minta pengakuan secara resmi atas siapa bapak dari anaknya” tegas Zaenal.

Terkait informasi ini, PRN mencoba melakukan konfirmasi kepada Kades. Ditemui di kediamannya (sabtu, 11/12/2021), MZL membenarkan pernikahan sirih tersebut. Lebih lanjut disampaikan bahwa Kades menduga hal ini lebih bernuansa politik.

Pasalnya ada sekelompok orang yang tidak senang atas kemenangannya sebagai kepala desa. Lanjutnya, bahwa hubungannya dengan istri siri nya masih tetap baik dan masih tetap memperhatikan buah hati mereka.

“Saya masih tetap ngirim popok dan susu lewat bus,” kata Kades sambil menunjukkan foto untuk meyakinkan awak media.

Sudah menjadi hukum sosial di tengah masyarakat Indonesia, bahwa Public Figure sekelas Kepala Desa dituntut tidak hanya cakap dalam hal administrasi pemerintah namun juga prilaku sehari-hari. Bila semua dikaitkan dengan isu politik dan bersembunyi dibalik isu ketidaksenangan segelitir orang atas jabatan politik sang Kades, maka sungguh miris nasib anak yang lahir seperti tidak diinginkan ini.

(Arrengga/Red)

- Advertisement -
“fashion”

Sedang Hangat

Berita Menarik Lainnya