PRN MAGETAN – 2/10/2018 Bersih Desa Sebagai Upaya Pelestarian Budaya Salah satu kearifan budaya lokal yang sudah berabad abad berkembang pada masyarakat Jawa.Dipimpin langsung oleh Kepala Desa Dadi H.Sarmin “Kami ucapkan puji syukur kehadirat Allah S.W.T semoga Seluruh Masyarakat desa Dadi bisa selalu mendapatkan berkah dan hidayah dari Allah SWT dan semoga masyarakat Dadi kedepan bisa lebih sejahtera lahir dan batinnya.” lebih lanjut kepala desa Dadi mengungkapkan “Arab digarab Jowo ditoto ini adalah istilah leluhur yang adiluhung yang intinya adalah agar adanya sinergi antara adat istiadat dan ajaran agama bisa seiring dalam menjadikan Desa Dadi yang semakin sejahtera”paparnya.
Kegiatan bersih desa ini dilaksanakan dengan penuh Khidmat dan antusias oleh warga masyarakat. Yang dilaksanakan di Punden desa Dadi.Ritual “bersih desa” di pandang sebagai upaya pelestarian alam dengan modal sosial budaya yang telah di wariskan secara turun temurun .Karena ritual bersih desa bisa di jadikan sebagai tujuan destinasi wisata lokal hal ini bisa dilihat dari membludaknya pengunjung yang datang dari daerah lain diluar desa Dadi. “Saya memang sengaja kesini untuk melihat atraksi barongan yang akrobat di antara dua bambu itu mas” ujar Sari salah satu pengunjung dari kota Madiun
Pada tahun ini suasana ritual bersih desa yang di adakan di desa Dadi terasa istimewa dibandingkan tahun-tahun yang lalu.Kali ini ritual bersih desa didatangi oleh Bupati dan wakil Bupati kab Magetan 2018-2023 yaitu Kang Woto dan Bunda Nanik begitu panggilan akrab pasangan Pemimpin kab Magetan juga didampingi oleh Camat Plaosan Edy Suntoro, S.Sos diawali dengan iring iringan kirab yang reyog yang merupakan aset budaya lokal desa Dadi yang diberi nama Sanggar seni reyog Singo Hargo.
Sebagai desa yang masih memegang teguh nilai nilai budaya leluhur Desa Dadi sangat memperhatikan kearifan nilai budaya lokal.Seperti pelaksanaan Bersih Desa yang di laksanakan setiap bulan Muharram atau bulan Suro menurut penanggalan Jawa.Disamping sebagai upaya pelestarian nilai nilai budaya lokal juga sebagai perwujudan dari rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Manusia dan alam merupakan satu kesatuan.Hubungan dua elemen tersebut seakan tak bisa lepas satu sama lain.Sebuah hubungan simbiosis yang menjadi keniscayaan. Kehidupan yang selaras ini mampu menguatkan sensifitas spiritual. Masyarakat jawa memang hidup di tengah berbagai simbolisme, sebagai wujud spiritual. Kepercayaan terhadap sesuatu “diluar” manusia inilah yang memunculkan simbol-simbol yang mampu menjaga relasi hubungan manusia dengan alam. Dan salah satunya ialah ritual “bersih desa”.
Ritual bersih desa tidak selalu sama antara desa satu dengan desa yang lainya.Karena leluhur yang membawa tradisi tersebut berbeda beda.Bisa jadi ritual bersih desa yang ada di desa Dadi akan berbeda dengan ritual bersih desa yang ada di luar desa Dadi.Meski berbeda secara ritual namun tujuannya adalah sama sebagai perwujudan sinerginya manusia dengan alam, ( Beni Setyawan)

