PRN Surabaya | Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Juli 2026 Jawa Timur mengalami 0,26 persen. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh produksi komoditas hortikultura yang melimpah berdampak harga sejumlah bahan pokok seperti cabai dan tomat mengalami penurunan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Ir. Herum Fajarwati, M.M, dalam Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS Jawa Timur, Surabaya, Senin (3/8/2026) mengatakan Kondisi tersebut diatas justru berdampak positif terhadap daya beli masyarakat yang semakin meningkat.
Herum uraiannya menyampaikan selain Inflasi; BPS juga merilis lima indikator utama, yakni perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK), Nilai Tukar Petani (NTP), ekspor-impor, pariwisata, dan transportasi.
Menurutnya, deflasi yang terjadi pada Juli bukan disebabkan melemahnya konsumsi masyarakat, melainkan karena meningkatnya pasokan hasil pertanian karena sedang panen raya.
Deflasi ini menggambarkan bahwa produksi pertanian di Jawa Timur sedang melimpah, terutama komoditas hortikultura. Karena musim kemarau curah hujan rendah, hasil panen komoditas seperti cabai menjadi sangat banyak. “Ketika pasokan melimpah sementara kebutuhan relatif tetap sama, otomatis harga akan turun,” kata Herum.
Dijelaskannya, bahwa kondisi tersebut memiliki dua dampak berbeda. Dari sisi petani, harga jual mengalami penurunan, namun volume panen yang meningkat tetap memberikan hasil produksi yang lebih besar.
Bagi masyarakat sebagai konsumen, harga pangan yang murah justru membuat kemampuan daya beli semakin meningkat.
“Dari sisi konsumen yang bukan petani tentu diuntungkan karena harga turun jadi murah sehingga daya belinya meningkat,” ujarnya.
Ditegaskan Herum, deflasi kali ini tidak bisa langsung dimaknai sebagai pelemahan ekonomi ataupun turunnya daya beli masyarakat. Menurutnya, perlu melihat penyebab utama pergerakan harga sebelum menarik kesimpulan mengenai kondisi ekonomi.
Dalam BRS kali ini selain membahas perkembangan inflasi dan deflasi, BPS juga merilis perkembangan sektor perdagangan luar negeri. Nilai ekspor dan impor. Untuk ekspor Jawa Timur pada Juni 2026 mengalami penurunan yang terutama dipengaruhi melemahnya ekspor komoditas emas dan perhiasan.
Kemudian juga merilis perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) dan perkembangan kepariwisataan dan transportasi.bulan Juni. (cyo/sae)

