By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
PENA RAKYAT NEWSPENA RAKYAT NEWSPENA RAKYAT NEWS
Notification Show More
Font ResizerAa
  • POLITIK
  • LAWAN KORUPSI
  • HUKUM
  • KRIMINAL
  • KABAR JATIM
  • NUSANTARA
  • OPINI
  • MENU LAINNYA
    • METRO JABODETABEK
    • KABAR POLISI
    • BISNIS
    • HIBURAN
    • OLAHRAGA
    • MATA LELAKI
    • SELEB
Reading: KRITIK SOSIAL DALAM FENOMENA PETRUK DADI RATU BAGIAN III
Share
Font ResizerAa
PENA RAKYAT NEWSPENA RAKYAT NEWS
  • POLITIK
  • LAWAN KORUPSI
  • HUKUM
  • KRIMINAL
  • KABAR JATIM
  • NUSANTARA
  • OPINI
  • MENU LAINNYA
Search
  • POLITIK
  • LAWAN KORUPSI
  • HUKUM
  • KRIMINAL
  • KABAR JATIM
  • NUSANTARA
  • OPINI
  • MENU LAINNYA
    • METRO JABODETABEK
    • KABAR POLISI
    • BISNIS
    • HIBURAN
    • OLAHRAGA
    • MATA LELAKI
    • SELEB
Follow US
Beranda » Blog » KRITIK SOSIAL DALAM FENOMENA PETRUK DADI RATU BAGIAN III
OPINI

KRITIK SOSIAL DALAM FENOMENA PETRUK DADI RATU BAGIAN III

Redaksi
Last updated: 30 Agustus 2020 9:32 am
Redaksi
Published: 30 Agustus 2020
Share
SHARE

Oleh;
Ahmad Syafii, M.Pd.I.
(Dewan Redaksi Pena Rakyat News dan Pengurus Div. Edukasi Iskandar Laka Law Firm)

Prabu Krisna, Semar Bodronoyo, dan Gareng serta Bagong berempat pergilah ke wilayah kerajaan Lojitengoro bermaksud menemui Prabu tong Tong Sot yang telah membuat huru hara. Namun lagi-lagi terjadi pertempuran hebat antara Gareng dan Bagong dengan Prabu Tong Tong Sot Wel Geduwelbeh. Duel ketiganya tak mendapatkan kemenangan diantara mereka karena sama-sama saktinya. Namun disaat tangah adu jotos dan gulat dalam pertempuran, terdapat tanda-tanda khas yang dirasakan oleh si Gareng berupa bau keringat. Gareng dan Bagong mengenali bahu keringat yang timbul dari badan Prabu Tong Tong Sot. Keringat sang Prabu tersebut mirip bahu keringat Petruk, maka Gareng dan Bagong curiga kalau Prabu Tong Tong Sot adalah Petruk saudaranya sendiri yang menghilang.

Gareng dan Petruk memang hafal sekali akan kelemahan Petruk, maka ketika Parbu Tong Tong Sot lengah dalam duel, Gareng dan Bagong tidak serta merta melayangkan pukulan. Mengingat sang prabu tersebut sakti mandraguna tak mempan dengan senjata apapun. Namun dengan kecerdikan Gareng dan Bagong digunakannya jurus menggelitik sebagai kelemahan Petruk. Wal khasil siasat Gareng dan Bagong mendapatkan hasil untuk melemahkan lawan sehingga prabu Tong Tong Sot pun merasa kegelian saat digelitik.

Mengetahui dengan pasti dan yakin bahwa yang dihadapi lawan tanding gareng dan Bagong adalah Petruk bukan Prabu Tong Tong Sot, seketika itu juga Gareng berucap Truk Petruk kata Gareng ayo pulang kamu ini Petruk. Wes Ngakuo wae Truk sambung Bagong kepada Prabu Tong Tong Sot Wel Geduwelbeh. Mengetahui saudaranya mengenali dirinya Prabu tong Tong Sot alias Petruk Kantongbolong ngibrit lari untuk menghindar. Selanjutnya Gareng dan Petruk melaporkan hal tersebut kepada Ki Lurah Semar Brodronoyo.

Ki Lurah Semar sejatinya juga berilmu tinggi, maka dihampirinya Prabu Tong Tong Sot Wel Geduwelbeh sembari menyaapa; Toleee, Petruk Anakku sadar ngger (panggilan orang tua kepada anaknya angger), kita ini abdi, wong cilik oglak aglik koyok dingklek tolee, gedhibal songolikur paling ngisor, orang rendahan, kawulo alit, rakyat jelata, tidak sepantasnya menduduki posisi seperti yang kamu lakukan ini. Wes tinakdir deneng Kang Murbeng dumadi, Engkang Akaryo Jagad, bahwa kita ini hanyo pamonge poro bendoro. Ojo diterusno tolee, mundak ora becik tembe mburine. Lakonono kanthi ikhlas lelampahan kang wes ginaris, supoyo ing tembe bali marang asal sejatine ora tuno tolee. Upamane poro ndoro gung binathoro yen mlanggar janjine wes ben kersane dewe minongko penggede mbesok tembe akhire ben dirasakno lan digetune dewe akibate. Mergo kabeh penggawe becik utowo olo bakal balik marang awake dewe-dewe minongko piwalese Gusti Engkang Murbeng dumadi.

Baliklah ngger ke wujud aslimu, baliklah ke derajatmu titah sawantahmu ngger. Mendengar sapaan Ki Lurah Semar Bodronoyo tersebut Prabu Tong Tong Sot mendadak pucat pasi dan lemas tak memiliki daya. Dia kemudian sadar yang dilakukan itu tidak benar. Namun ketidak adilan dan keangkuhan para pemimpin kerajaan yang memicu dia berulah seperti itu. Bersimpuhlah dia dihadapan ki Semar seraya melepaskan mahkotanya. Seketika itu juga berubah pula Prabu Tong Tong Sot Wel Geduwelbeh menjadi jleger Petruk yang sesungguhnya.

Maka sembari dia gendong golek kencono tak lain adalah Abimanyu yang sedang sakit parah. Seraya berkata Abimanyu kepada Petruk; kamu tidak akan bisa berkuasa kecuali memangku aku, saat itu juga si petruk memangku golek kencono. Dalam sekejap sang Abimanyu sembuh seperti sedia kala, dan kemblilah 3 wahyu yang sebelumnya telah hinggap ke Petruk kepada Abimanyu. Petruk kemudian berkata, seorang raja tidak ada artinya kalau tidak dipangku rakyat rendahan seperti saya. Karena keberadaan seorang raja tetapi tanpa dalam pamangkuan, dukungan secara penuh dari rakyat maka tidak akan berti apa-apa kekuasaan yang dimilikinya. Kecuali tak lebih dari hanya sebagai boneka belaka. Adanya raja karena ada rakyatnya, ada pemimpin karena ada yang dipimpinnya. Kebesaran raja karena besarnya dukungan rakyatnya. Jadi tidak pantas para ndoro adigang adigung adiguno sopo iro sopo ingsung. Mergo nek ketemu wolak walinging mongso bakal getun koyo kedadihan iki mau, begitu petruk berucap.

Dilain pihak Sri Krisna kemudian mengucapkan terimakasih kepada Ki Lurah Semar. Karena sudi turun tangan ikut menangani kemelut akibat kesalahan para punggawa manggalaning yudho kerajaan yang keluar dari jalur kode etik pejabat, sehingga mengakibatkan Petruk muntab ngacak-acak tatanan yang telah dibuat dan disepakati namun dilanggar sendiri oleh para pimpinan kerajaan. Tak lupa meminta maaf kepada Petruk atas ulahnya dan para pemimpin kerajaan lainnya yang khilaf dan diliputi keangkuhan serta semena-menaa dalam membuat kebijakan yang merugikan masyarakat banyak.

Bagiamanapun kata Krisna, masyarakat adalah segala-galanya maka tak pantas hanya dipandang ketika dibutuhkan dukungannya atau diambil jasanya namun tak memberikan penghargaan justru menista kepada rakyat yang menyengkuyung. Apalagi sampai buta tak mampu melihat mata hatinya berarti nulayani kodtrate ratu/raja yang sabdanya tan keno wola wali. Lebih parah lagi jika para ratu/raja lupa setelah mendapatkan yang diinginkan tegese mblenjani janji, atau malah mendiskreditkan anggota masyarakat tertentu untuk menutupi kesalahannya. Hal itu bukan perbuatan raja atau pemimpin apapun yang bijak namun penipuan terhadap masyarakat dan kejahatan publik yang wajib dibongkar jika merugikan anggota masyarakatnya seperti yang dilakukan oleh Petruk tadi, kata Krisna.

Kisah Petruk tersebut mengingatkan kepada masyarakat secara umum agar tidak sewenang-wenang ketika menjadi seorang pimpinan. Karena jabatan pimpinan tidak ada artinya jika tak ada yang dipimpin. Selayaknya kembali tentang pelajaran aliran air, karena dia akan mengalir dari atas kebawah dan menjadi sumber penghidupan makhluk dibumi secara merata sesuai dengan struktur tanah, begitulah sikap pemimpin. Begitu pula sang Semar bersikap bijak dan kebapakan, turun dan meyadarkan putranya dikala lupa akan jati dirinya sebagai wong alit, sehingga tutur katanyapun menyejukkan seperti air dan tidak asal backup meskipun anaknya sendiri. Maka wajar jika Ki Semar menjadi rujukan bukan hanya kawulo alit tetapi juga engkang sinuwun poro ndoro lan priyayi gung, yang memandang kebaikan dan kebenaran sebagai sebuah nilai yang dijunjung tinggi.

You Might Also Like

KHILAF DAN LUPA MEMBOBOL PERISAI KEMULYAAN
DPK LSM LIRA Beri Apresiasi Tinggi Atas Pembangunan Rumah Pompa Pertanian Desa Kalidawir 
Paguyupan Perumtas III Sidoarjo Satukan Misi dan Visi Dapatkan Tanah Makam
Kinerja 100 Hari Pelayanan Mediator Non Hakim PN Sidoarjo, Patut Diapresiasi Tercapai Perdamaian Penyelesaian Sengketa, Sama Mulianya Putusan Hakim Yang Adil
Wabup H. Subandi Pesan Untuk Guyub Rukun Membangun Desa
TAGGED:Petruk GarengSidoarjo
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trend Terkini
KABAR JATIM

Sidak Sekolah Penerima Revitalisasi, Sekda Jombang Ingatkan Soal Tanggung Jawab

Redaksi
By Redaksi
2 Oktober 2026
PT. PRADHA KARYA PERKASA Sampaikan Hak Jawab Melalui Anggota TNI Terkait Pemberitaan Dugaan Limbah di Karangdiyeng
Pemkab Malang Realisasikan Hotmix Pendem Jatisari Pakisaji
Di Hadapan 600 Wisudawan UNWAHA, Zulhas: Berani Itu Menentukan Masa Depan
KPPU Dorong Mahasiswa Pahami Persaingan Usaha untuk Bangun Ekonomi Berdaya Saing

Kategori Berita

  • Politik
  • Lawan Korupsi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Kabar JATIM
  • Nusantara
  • Opini
Menu Cepat
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik
  • Susunan Redaksi
  • Copyright
  • Disclaimer
SGN Dukung HUT ke-81 TNI, Salurkan 15 Ton Gula untuk Bakti Sosial dan 1,5 Ton untuk Pasar Murah
6 Oktober 2026
Di Hadapan 600 Wisudawan UNWAHA, Zulhas: Berani Itu Menentukan Masa Depan
5 Oktober 2026
Perkuat Ekosistem Tebu Rakyat, SGN dan ANPER Bangun Infrastruktur Jalan di Bantul
3 Oktober 2026
Sidak Sekolah Penerima Revitalisasi, Sekda Jombang Ingatkan Soal Tanggung Jawab
2 Oktober 2026
PENA RAKYAT NEWSPENA RAKYAT NEWS
© Penarakyatnews.id 2026. All Rights Reserved. Developed by Marga
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?