Madura, penarakyatnews.id – Hakekatnya manusia adalah makluk sosial, yang selalu hidup dalam kebersamaan antara satu dengan lainnya, kehidupan sosial akan mendorong manusia saling mengisi dan memberi satu dengan lainnya, keterkaitan ini akan mendorong pertumbuhan dan populasi manusia semakin bertambah dan bertambah.
“Lain lubuk lain ikannya” pepatah ini menyadarkan kita akan berbagai macam adat dan tradisi yang berbeda-beda dalam mempersatukan antara 2 insan makluk sosial seperti halnya di wilayah Pulau Poteran Sumenep Madura.
Begitupun dengan orang-orang Madura. Orang Madura yang terkenal dengan keberanian mereka dalam menjejakkan kakinya di tempat-tempat yang tidak pernah mereka langkahi sebelumnya. Modal keberanian inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa orang Madura berada di mana-mana. Kalau orang bilang “jangankan di Surabaya ada Madura, di Mekkah aja banyak orang Madura”. Ungkapan ini menjadi ciri khas tersendiri untuk orang Madura.
Kali ini ditunjukkan oleh warga Talango tepatnya di desa Kabbiya, ADIL (4th) Putra dari pasangan Adi Santoso dan Enjun telah dipertunangkan dengan NAILA (2th) Putri dari Bapak Ilyas dan Ibu Wila, acara pertunangan yang sangat luar biasa ini mengundang reaksi yang positif dari berbagai kalangan mulai dari penduduk setempat sampai dengan aparat pemerintahan ikut dalam menyemarakkan pertunangan adat pulau Poteran ini. 25/09/17
Para sesepoh (se nyeppoe) yang terdiri dari beberapa kepala desa di wilayah kecamatan Talango, Patwal dari Polres Sumenep, Kapolsek Talango dan Danramil Talango turut serta dalam mengawal 85 mobil dan 55 sepeda motor berarak-arakan meramaikan acara pertunangan adat ini.
Acara ini memiliki makna yaitu “epangger” atau dengan bahasa Indonesia “diikat” dalam prosesi ini pihak perempuan secara saklar sudah di lamar oleh pihak pria, dengan kata lain sampai si perempuan ini menginjak cukup umur untuk menikah tidak boleh di lamar oleh orang lain, Proses semacam ini biasanya di barengi dengan membawa jajan-jajan pasaran. Yang paling terkenal untuk jajanan ketika pertunangan ialah “tettel, dan bejid”, (tettel”, jajanan yang terbuat dari ketan yang diolah sedemikian rupa sehingaa membentuk jajan yang enak dan bagus dilihat, biasanya berwana putih, “bejid”, sama halnya dengan “tettel”, hanya saja ia di campur dengan gula merah sebagai pemanisnya).
Selain membawa jajanan, biasanya proses ini di barengi dengan beberapa keluarga calon suami dan orang-orang yang dipercaayai orang tua calon suami untuk meminta sang anak perempuannya. Istilah Madura yang lebih terkenal dan yang sering terdengar kala lamaran di ucapkan oleh calon mertua atau orang yang di yakini mampu untuk menyampaikan tujuan dari kedatangan calon mertua tersebut. “koca’en be’en andik ajem bini” (kami dengar kamu memiliki ayam perempuan). Pelamar tersebut mengistilahkan calon istri sebagai ayam betina. Setelah kesepakatan di ketemukan dan orang tua calon istri telah memberikan sinyal hijau pada calon suami, maka disanalah terjadi resmi pertunangan. Dengan artian si perempuan sudah milik si laki-laki dan si laki-laki itu sudah menjadi calon suami bagi si perempuan.
Dan masih banyak lagi prosesi upacara pertunangan yang sangat bermakna namun dalam acara ini dapat di ambil hikmah dan makna Kehidupan mereka untuk mempersiapkan generasi-generasi penerus untuk kemajuan Desa, Kecamatan, Kabupaten bahkan Negara mereka, dengan semua ini, terjadilah kehidupan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. (Salam/fajar)

