PRN NGAWI – Terletak didaerah dataran tinggi wilayah Kabupaten Ngawi dan obyek wisata air terjun disitulah keberadaan desa Wakah Kecamatan Ngambe Kabupaten Ngawi yang masih kental dengan budaya dan kebiasaan leluhur yang menjadi pedoman warga.
Sebagai wujut rasa syukur kepada Allah SWT, dan menghormati para leluhur dibulan Suro atau yang biasa disebut tahun baru Islam di tahun 2018 ini, berbagai acara ritual dan hiburan disajikan.
Hal ini sudah berlangsung setiap tahunnya karena menurut warga setempat dirinya tidak bisa meninggalkan nilai luhur dan ajaran leluhur tentang kehidupan sehari-hari untuk mengais rejeki, walaupun di era modern tetap saja budaya dan adat istiadat desa Wakah tetap terjaga. Ucap warga Wakah.
Senada juga disampaikan oleh Kepala Desa Wakah Bambang, dirinya mengatakan bahwa kita adalah orang Jawa dan secara otomatis kita memiliki panutan dari leluhur kita yaitu Wali Songo terutama sunan Kali Jogo sebagai leluhur yang menyebarkan ajaran Islam kepada kita semua melalui budaya seperti halnya wayang kulit, Kepala Desa Juga menambahkan dari dasar itu dalam pagelaran wayang kulit ini mengandung makna sebagai tuntunan kita semua untuk menjalani kehidupan yang baik rejeki yang barokah selamat dunia dan akhirat. Papar Kepala Desa Wakah.
Pesan Sunan Kalijaga ini ditujukan kepada umat akhir zaman dengan sebelumnya menyebut tanda-tanda akhir zaman. Dan menyaran untuk melakukan pendekatan kepada Allah melalui perjalanan Rohani (suluk) mencari petunjuk & hidayah dari-Nya.
Yen pasar ilang kumandange,
Yen kali wis ilang kedunge,
Yen wong wadon wis ilang wirange,
Mlakuho topo lelono njajah deso milang kori,
Ojo nganti/ngasi bali yen durung bali patang sasi,
Golek wisik songko Sang Hyang Widhi.
Artinya
Yen pasar ilang kumandange,
Jika pasar sudah mulai hambar/hening. Maksudnya sudah tidak berlakunya tawar-menawar dalam urusan jual beli, ini kerana banyaknya pasar raya/pasar besar yang dibina. Dahulunya semua pasar memakai sistem tawar menawar (ijab qabul), sehingga suaranya kedengaran begitu keras dari jauh seperti suara lebah yang mendengung.
Ini bermakna tadinya adanya kehangatan dalam perhubungan sosial di kalangan masyarakat, tapi sekarang sudah hilang. Biarpun kita sering ke pasar raya/pasar besar ratusan kali, kita tidak saling kenal dengan pengunjung mahupun para pelayan dan juruwang di tempat itu.
Yen kali wis ilang kedunge,
Jika sungai sudah mulai dangkal sehinga hilanglah kedungnya. Jika sumber air sudah mulai kering. Maksudnya jika para alim ulama sumber ilmu sudah mulai wafat satu persatu, tanda ilmu mulai dicabut dari muka bumi. Sehingga orang tak berilmu menjadi pemimpin agama & dimintai fatwa. Maka ini adalah alamat bahawa dunia akan dikiamatkan oleh Allah S.W.T.
Ulama ditamsilkan seperti air yang menghidupkan hati manusia yang gelap tanpa cahaya hidayah.
Yen wong wadon wis ilang wirange,
Jika wanita sudah tidak mempunyai/memiliki rasa malu.
Mlakuho topo lelono njajah deso milang kori
Berjalanlah bertapa berkelana. Ertinya bermujahadah, susah payah dalam perjalanan rohani, spiritual (suluk), riyadlah atau perjalanan fi sabilillah.
Ojo nganti/ngasi bali yen durung bali patang sasi
Jangan pulang sebelum kembali 4 bulan/masa. Bermaksud penguasan atas
ilmu, iaitu ilmu syariat, ilmu tarekat, ilmu makrifat, dan ilmu hakikat.
Golek wisik songko sang Hyang Widhi
Mencari petunjuk, ilham, hidayah dan kefahaman rohani dari Dzat yang Maha Esa.
Pesan inilah yang sampai sekarang diingat oleh warga Wakah Ngawi dan dijalani untuk mencapai kesempurnaan hidup didunia dan akhirat. (sh07/beni).

