Ana kidung rumeksa ing wengi,
Teguh hayu luputa ing lara,
Luputa bilahi kabeh,
Jim setan datan purun,
Paneluhan tan ana wani,
Miwah panggawe ala,
Gunane wong luput,
Geni pan temahan tirta,
Maling adoh tan wani perak ing mami,
Guna duduk pan sirna.
Bunyi syair kidung di atas sangatlah falimier favorit di telinga masyarakat secara turun-temurun hingga kini.
Konon syair kidung tersebut di atas memiliki daya magis linuwih untuk segala keperluan terlebih pengobatan, apa betul demikian?
Sepuluh tahun yang lalu masih tidak begitu banyak orang yang mampu mengerti atau bisa melantunkan kidung tersebut kecuali hanya orang-orang tua saja, namun kini setelah kemajuan teknologi digital begitu pesat dan cepat masyarakat bisa memahami kidung tersebut terlebih anak-anak muda yang pinter mengakses /copy serta mendengarkan lantunan tembang kidung secara terus menerus hingga hafal, setelah hafal dan bisa melantunkan kidung tersebut dengan sangat baik dan benar, apakah kidung tersebut memiliki daya magis linuwih? Jawabnya tentu tidak, apa alasannya? Alasannya ; kidung warisan nenek moyang kita ini adalah penuh dengan liku-liku sandi sastra pralampitha yg harus terpenuhi.
Kalau anda belum mampu atau berani menyiapkan sastra pralampitha yang berupa Yoga Samadi, sesaji dll janganlah berharap lebih datangnya daya linuwih magis kidung tersebut, maka dari itu semua tergantung pada diri sendiri, nuwun
Hayu hayu jaya jaya Wijaya
Rahayu Mulyaning jagat.
Dirilis ulang oleh : Pondok Telasih 87.

