close
OPINI

WUJUD BERJALANNYA HUKUM ALAM MENUJU KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

Oleh;
Ahmad Syafii, M.Pd.I.
(Dewan redaksi Pena Rakyat News dan Pengurus Biro Hukum Yuris Surabaya)

Setiap individu dalam masyarakat terdapat perbedaan antara yang satu dengan lainnya. Hal tersebut sebagai bentuk berjalannya hukum alam, perbedaan dalam masyarakat dapat berupa jasmani, ekonomi, strata sosial, rohani, spiritual, dan intelektuaitas. Oleh karena itu dalam Islam Allah Swt. mengajarkan melalui Rasulullah Muhammad Saw. mengenahi persamaan dari perbedaan, agar tidak terjadi kesenjangan yang berkepanjangan terhadap sunnatullah. Tersebut dalam kitab suci al-Quran yang artinya sebagai berikut:

Wahai mansuia. Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mengenal (QS. al-Hujurat : 13).
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksaNya (QS, al-Maidah : 2).
Ternyata Tuhan menciptakan manusia dalam standart komunitas berbangsa-bangsa dan bersuku-suku kemudian digarisbawahi untuk saling berkomunikasi sebagaimana teori ekositem sebagai hubungan timbal balik. Artinya kegiatan dimaksudkan bukan untuk membentuk komplotan dan saling serang namun lebih menitikberatkan kepada kemanfaatan antara satu dengan yang lainnya.

Dalam Surat al-Maidah tersebut, disamping memberikan intruksi untuk saling interaksi, juga terdapat sebuah warning agar memperhatikan dengan penekanan solidaritas, artinya jauh dari ancaman dan permusuhan. Jika yang satu lapang sememntara yang lain dalam keadaan sempit, maka yang lapanglah mengangkat tangannya di atas karena terdapat tangan yang sempit dibawah membutuhkan uluran tangan.

Era industrial ini perlulah adanya refleksi menyemai kebaikan dan kebenaran diantara reruntuhan moral yang kian terkikis akibat gelombang resesi ekonomi dunia. Manusia lebih kepada mengedepankan ego, ketimbang andap asor. Ketika ego merasa diri lebih dari yang lain, maka muncul nafsu ghodhobiyah yang sulit ditaklukkan sehingga kerapkali kita jumpai terdapat bentuk-bentuk bulliying, kekerasan, dan ancaman, baik itu dilakukan secara langsung ataupun tidak.

Menyedihkan memang kerap kali kita jumpai bentuk bullying, kekerasan, dan ancaman tersebut dilakukan dengan secara verbal, hal tersebut terlihat sepele namun justru lebih membahayakan ketimbang ancaman secara langsung. Karena ancaman langsung berupa fisik dapat diidentifikasi dan ditemukan obatnya, tetepi cara verbalism ini hanya pelaku dan si korban yang tahu. Akibatnya dari tindakan sewenang-wenang tersebut membuat orang lain mengalami derita atau depresi, sebab banyak peristiwa bunuh diri sering terjadi berangkat dari depresi adanya.

Satu contoh ketika seorang atasan terhadap bawahan terjadi komunikasi dengan nada ancaman namun dalam bentuk verbal misalnya jika tidak ini dan tidak itu, akan terjadi pemberlakuan pemberlakuan begini dan begitu, atau sampai kepada ancaman pemecatan. Perumpamaan tersebut, untuk sementara tidak ada soal namun seiring bertambahnya waktu, bukan hanya sekali dilakukan maka lambat laun akan menjadi beban psikis. Tekanan dalam bentuk psikis tersebut suatu ketika dapat berubah menjadi gejolak emosi yang muncul dengan tiba-tiba. Ketika tekanan psykis berubah menjadi beban pikiran inilah yang justru akan berdampak kepada orang yang bersangkutan atau bahkan kepada orang lain. Derita yang ditanggung dirinya sendiri tidak terpecahkan karena sulit orang lain bersimpati sebab tidak terlihat, sementara ketika dibincangkan ada rasa ewoh dan pakewuh, selain itu belum tentu lawan bicara mau mendengarkan dengan ikhlas dan seksama serta memberikan solusi, sementara jika dipendam menjadi beban.

Oleh sebab itu Agama Islam melarang perbuatan yang bersifat bulliying dan persamaan istilah serupa lainnya. Sehinngga dalam Islam ada istilah al-jinayah yang dalam pengertian secara syarinya adalah memiliki makna suatu pekerjaan atau tindakan yang diharamkan, sebab adanya madharat (dampak negatif) yang dihasilkan. Sayid Sabiq dalam bukunya Fiqh Sunnah, Jilid 2, diterbitkan oleh Daar al-Kitab al-Arabi, di Beirut pada tahun 1977, cetakan ke 3 halaman 232, dikatakan bahwa; Para Fuqaha mengatagorikan tindakan pidana menjadi dua. Pertama, pidana yang berkaitan dengan hak Tuhan. Kedua, pidana yang mewajibkan qishosh, yaitu tindakan yang ada hubungannya dengan hak manusia. Maksudnya adalah tindakan pidana yang berhubungan dengan pembunuhan atau pencideraan tubuh. Semua hal ini terangkum didalam pokok dan atas maslahat dharuri (primer).
Al-Quran dalam Surat al-Hujurat yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang direndahkan) lebih baik dari mereka yang merendahkan) dan jangan pula perempuan-perempuan (merendahkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang direndahkan) lebih baik dari perempuan (yang merendahkan).

Dan janganlah (talmizu) kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim (QS. al-Hujurat : 11).
Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah Vol 12 halaman 606 menerangkan tentang ayat tersebut, dikatakan bahwa; Kata talmizu terambil dari kata al-lamz. Para ulama berpendapat dalam memaknai kata ini. Misalnya, Ibn Asyur, memahaminya dalam arti ejekan yang langsung dihadapan orang yang diejek, baik dengan isyarat, bibir, tangan, atau kata-kata yang dipahami sebagai ejekan atau ancaman. Ini adalah salah satu bentuk kekurangajaran dan penganiayaan.
Dengan demikian dapat diartikulasikankan semacam bullying, sehingga ada 3 faktor yang menjadikan pemicu perbuatan menindas. Pertama adalah faktor ekonomi, kedua faktor lingkungan, ketiga faktor jabatan. Ketiga hal tersebut dapat memicu terjadinya bullying, korban bullying secara umum berstatus/powernya lebih rendah.
Ketika agama telah memberikan batasan atas tindakan-tidakan yang tidak sewajarnya melalui kaidah-kaidah dalam agama seperti tersebut diatas, maka misi berkehidupan dalam masyarakat manusia membuat rambu-rambu visi pembatasan tindakan-tindakan anggota masyarakat yang mungkin merugikan, sehingga adanya perundang-undangan yang berlaku diharapkan sebagai pranata sosial itu sendiri.

Tampak dalam foto; Iskandar laka, S.H, M.H, (Praktisi dan Dosen Fakultas Hukum) tanggal 6/8/2020 selaku kuasa hukum bersama tim Biro Hukum “Yuris” diantaranya Anadyo Prasetyo, S.H, M.H, Siti Fatimah, S.H, dan M. Ridwan, S.H, serta Sueb Efendi, S.H. disela-sela melakukan gelar perkara di daerah Grati Pasuruan dalam advice terhadap salah satu warga di Kecamatan Grati Pasuruan yang berinisial SM dan diduga sebagai korban ancaman verbal dalam proses pelaporan di Polsek Grati Pasuruan. Dikatakan oleh Iskandar Laka, S.H, M.H. bahwa; Indonesia adalah negara hukum, setiap warga negara wajib tunduk dan patuh terhadap hukum maka keadilan wajib ditegakkan jika terjadi pelanggaran hukum, supaya tidak terjadi tindas menindas dan intimidasi atau bentuk lainnya terhadap anggota masyarakat lain, sehingga tidak terjadi main hakim sendiri.

Kitab Undang Undang Hukum Pidana jelas telah mengatur perihal ancaman tersebut. Lebih lanjut Iskandar mengatakan; selain itu bukankah didalam agama ada norma agama telah secara rinci mengatur persolan-persolan yang menyangkut komunikasi didalam masyarakat, kalau ada yang baik untuk dilaksanakan buat apa pilih yang tidak baik, katanya.

Tampaknya yang disampaikan Iskandar Laka, S.H, M.H. memang benar adanya. Harapan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia dan Pandangan Hidup Bangsa Indonesia dapat terwujud terutama sila ke-5 Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tags : . Wujud Berjalannya HukumSurabaya

Leave a Response

*