PRN Surabaya | Surabaya – KAI Commuter memohon maaf atas terjadinya keterlambatan perjalanan Commuter Line Supas pada Jumat, (9/8/24) kemarin di Stasiun Pasuruan. Kelambatan perjalanan ini imbas dari kendala lokomotif saat akan masuk Stasiun Gedangan sekitar pukul 13.07 WIB. Setelah proses pergantian lokomotif yang dikirim dari Dipo Lokomotif Sidotopo, perjalanan Commuter Line Supas No.455A dijalankan kembali menuju Stasiun Pasuruan.
“Kejadian ini menyebabkan perjalanan Commuter Line Supas No.455A relasi Surabaya – Pasuruan yang terlambat datang di Stasiun Pasuruan selama 73 menit dan pemberangkatan Commuter Line Supas No.456A relasi Pasuruan – Surabaya selama 38 menit,” ujar VP Coprporate Secretary KAI Commuter Joni Martinus Sabtu (10/08/25).
Joni menambahkan informasi kelambatan perjalanan Commuter Line Supas tersebut sudah diinformasikan kepada seluruh pengguna secara berkala oleh petugas Stasiun Pasuruan. “Sesuai dengan SOP dan aturan di perusahaan, jika ada kelambatan perjalanan KA petugas stasiun wajib memberikan informasi kelambatan kepada pengguna,” jelas Joni.
Untuk antisipasi layanan kepada pengguna imbas keterlambatan ini, KAI Commuter menambah layanan _boarding pass_ pengguna menjadi 2 meja pelayanan dan 1 _mobile rider_ untuk mempercepat proses _boarding pass_ pengguna sebelum naik kereta.
Sesaat perjalanan Commuter Line Supas No.455A akan masuk Stasiun Pasuruan dan proses langsir lokomotif, pengguna yang menunggu di Stasiun Pasuruan mulai berdiri dan antre di depan meja _boarding_. Untuk menjaga keselamatan pengguna selama proses langsir lokomotif, pengguna diminta untuk duduk kembali dan belum bisa melakukan _bording_.
“Untuk keselamatan dan kemanan, pengguna akan dipersilahkan masuk ke dalam kereta setelah KA siap melayani pengguna” tambah Joni.
Selanjutnya KAI Commuter akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna menjaga keandalan sarana lokomotif yang akan dioperasikan untuk perjalanan Commuter Line. “KAI Commuter akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan KAI untuk tetap memastikan keandalan sarana lokomotif sehingga tidak terjadi kembali hal yang serupa,” tutup Joni. (sae/ryoo)

