PRN Ngawi | Peristiwa keracunan makanan terjadi di wilayah Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, dan menimpa puluhan siswa dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Kejadian tersebut diduga berasal dari konsumsi makanan dalam kegiatan SPPG Kawu, namun penyebab pastinya masih dalam proses penyelidikan pihak berwenang.
Data sementara yang dihimpun menyebutkan, korban keracunan berasal dari beberapa satuan pendidikan. Dari SMP Negeri 2 Kedunggalar terdapat 48 siswa yang mengalami gejala keracunan. Sementara dari SMA Kedunggalar, tercatat 2 siswa terkena dampaknya. Selain itu, dari SDN Jenggrik 2 terdapat 20 korban, SDN Jenggrik 6 sebanyak 16 korban, SDN Gemarang 6 sebanyak 3 korban, serta SDN Gemarang 5 dan 7 mencatat 7 orang terdampak. Dengan demikian, total keseluruhan korban mencapai 98 orang.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi, Kabul Tunggul Winarno, menyampaikan bahwa dugaan awal keracunan makanan masih dalam proses penyelidikan. Makanan yang diduga menjadi penyebab telah diambil sampelnya dan saat ini sedang diperiksa di laboratorium Surabaya. “Semua masih dalam penyelidikan, kami menunggu hasil resmi dari laboratorium,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Ngawi, Heri Nurfahrudin. Menurutnya, pemerintah daerah bergerak cepat melakukan penanganan darurat dan pengumpulan data terkait makanan yang dikonsumsi dalam kegiatan SPPG Kawu. “Sampel makanan sudah dikirim ke laboratorium Surabaya untuk memastikan penyebab keracunan,” tegasnya.
Reza Anak SMP Korban awalnya mengalami gejala pusing, mual, dan muntah secara bersamaan setelah menyantap hidangan pada kegiatan tersebut. Para siswa kemudian segera dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Beruntung, respons cepat dari tenaga medis Puskesmas Gemarang serta dukungan tim kesehatan dari Dinkes membuat seluruh korban berhasil ditangani dengan baik. Tidak ada laporan kondisi berat ataupun korban jiwa dalam kejadian ini.
Saat ini seluruh korban telah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing setelah kondisi kesehatan membaik. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menunggu hasil resmi pemeriksaan laboratorium guna memastikan penyebab utama insiden keracunan massal tersebut. (Jatmiko)

