PRN Sumenep, – Pemerintah kabupaten Sumenep mengajak masyarakat untuk meningkatkan ketahanan Pangan Lokal sebagai bahan konsumsi sehari-hari dan mendorong masyarakat mengkonsumsi hasil pangan lokal.
Karena itu Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumenep, gelar rapat koordinasi Dewan Ketahanan Pangan tahun 2018 di graha Arya Wiraraja kabupaten Sumenep ujung timur pulau garam Madura, Selasa, 11/12/2018.
Yang hadir dalam kegiatan itu diantaranya: – Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi, Sekretaris Daerah Sumenep Ir. Edy Rasiyadi, M.Si, Kadis Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumenep Ir. Edy Sutrisno, Asisten Pemerintahan, Staf Ahli, dan Camat se-Kabupaten Sumenep, serta para undangan yang hadir.
Saat ini, masyarakat Sumenep butuh dorongan dalam memanfaatkan pangan lokal sebagai bahan konsumsi dalam kehidupan sehari hari, karena saat ini di Sumenep masih tergolong rendah.
Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi M.SI dalam sambutannya berharap, Pemkab Sumenep harus mengsosialisasikan dan mengajak masyarakat untuk meningkatkan manfaat pangan lokal, karena dari itu kita harus mengajak masyarakat agar menyukai dan mengkonsumsi pangan lokal untuk kebutuhan sehari-hari.
Karena Pemanfaatan pangan lokal pada PPH tahun 2018 umbi-umbian hanya sebesar 2,2 padahal standart Nasional nya adalah 2,5. Sementara setiap tahunnya terjadi alih fungsi lahan yang perlu upaya meningkatkan diferensial pangan terutama pangan lokal,
“ Perlu terbentuk sinergitas kebijakan dan Kegiatan program di setiap instansi dan mengharapkan dukungan masyarakat untuk aktif mengkonsumsi hasil pangan lokal dalam kebutuhan sehari-hari dan meningkatkan pangan lokal, guna memenuhi kebutahan,” tutur Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi.
Masih dalam keterangan Wabup Sumenep,
” Pada tahun 2017 lalu, kondisi ketahanan pangan di Sumenep produksi jagung sebesar 413 ribu 053 ton, padi 277 ribu 740 ton, ikan sebesar 47 ribu 547 ton, kedelai 6.290 ton, daging sebesar 4.575 ton dan telur 4.142 ton,” ucapnya.
Karena itu dewan ketahanan pangan sangat memiliki peran penting dalam mengarahkan dan mengawal kebijakan ketahanan pangan dalam mewujudkan dan mendorong masyarakat untuk ikut serta dalam penyelenggaraan ketahanan pangan serta terus mengevaluasi tentang program ketahanan pangan.
Pemantauan status gizi masyarakat, untuk balita dengan berat badan di Bawah Garis Merah (BGM) sebesar 0,59 persen dengan target di bawah 15 persen, sehingga khusus balita dengan BGM berada pada kondisicukup baik.
“Sedangkan untuk prevalensi balita usia0-59 tahun 2017 sebesar 32,3 persen, rata-rata Provinsi Jawa Timur sebesar 26,7 persen artinya prevalensi stunting di Sumenep tinggi,” kata wakil Bupati Sumenep dalam sambutannya.
Jurnalis : Erfandi

