BEKASI, PRN.id – Untuk menghindari dan memberantas segala bentuk kejahatan atau kriminal yang sering terjadi belakangan ini, pihak Polres Metro Bekasi Kota melakukan Operasi Cipkon gabungan bersama Kodim, Brimob Polri dan jajarannya yang dipimpin langsung Kapolres Kombes Pol. DR. Indarto, SH,S.Sos, S.I.K,Msi. Minggu (31/12) sekitar pukul 00:30 WIB.

Dalam Operasi Cipkon kali ini yang menjadi sasaran titik rawan adalah wilayah Utara dan wilayah Pondok Gede. Terkait dengan peristiwa tawuran yang terjadi sebelumnya hingga menewaskan seseorang, pihak kepolisian masih menelusuri pengembangannya.

Dan hasil dari Operasi Cipkon malam ini, untuk wilayah utara ditemukan penarikan paksa mobil oleh leasing. Mobil diamankan ķe Polres Metro Bekasi Kota guna barang bukti.
Sedangkan hasil operasi di wilayah Pondok Gede, ditemukan sekumpulan anak dibawah umur (19 laki-laki dan 6 perempuan). Dan dilokasi yang sama juga ditemukan beberapa “sajam” (senjata tajam) berupa Clurit panjang dan pendek, golok, dan potongan besi. Juga beberapa kendaraan (motor) yang mereka gunakan. Semuanya barang bukti dibawa ke Polres untuk diamankan dan sekumpulan anak-anak tersebut dibawa ke Polres Metro Bekasi Kota untuk dimintai keterangan. Minggu (31/12) sekitar pukul 01.00 WIB.

Seperti yang dijelaskan oleh Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes.Pol Dr.Indarto, SH.Msi kepada beberapa awak media termasuk wartawan Pena Rakyat News mengenai operasi cipkon ini. “Mereka janjian sama teman-temannya lalu tawuran. Itu yang kita antisipasi, dan malam ini kita sudah amankan ke Polres untuk diproses secara hukum. Hal ini memang ada kaitannya dengan tawar yang terjadi sebelumnya sampai mengakibatkan seseorang terbunuh,” jelasnya.

“Dan disini termasuk titik-titik rawan selain wilayah utara, jadi kita akan laksanakan terus upaya cipta kondisi seperti ini. Masih ada beberapa titik rawan lainnya. Dan semua ini dilakukan secara simultan bersama Polsek jajaran. Tujuan kita melakukan Opera Cipta Kondisi ini untuk memperkuat polsek-polsek. Ada 8 Polsek di wilayah Bekasi ini yang melaksanakan operasi cipkon ini yang kesemuanya melakukan secara metting masing-masing,” ungkapnya.
Dari sekumpulan anak yang telah diamankan tadi rata-rata masih duduk dibangku kelas I SMA, bahkan ada yang masih duduk dibangku SMP kelas I. Diperkirakan perbuatan mereka yang nongkrong hingga larut malam itu karena kurangnya perhatian dan bimbingan dari orangtua (keluarga)-nya hingga membuat mereka jadi ‘broken home’ dan lebih memilih tinggal di jalanan.

Hal tersebut harusnya jadi acuan pemerintah khususnya Lembaga Perlindungan Anak untuk berikan bimbingan dan pembinaan. Supaya masa depannya bisa tertata dan tidak salah arah dalam pergaulan. (put/awi).

