JAKARTA, PRN.id – Sarasehan PIM (Pergerakan Indonesia Maju) yang dihadiri oleh salah satu ketua KPU Dr.Arif Budiman, perwakilan Kemendagri Dr.Suhajar Diantoro, beberapa tokoh Politik dan narasumber, digelar dikantor sekretariat CCDC-PIM, Jl.Brawijaya VIII Kebayoran Baru, Jakarta Pusat. Rabu (17/01).
Tahun 2018 merupakan tahun yang penuh dinamika, energi serta kejutan. Karena selain akan digelarnya even Piala Dunia 2018 di Rusia juga akan digelar dalam lingkup domestik yakni pertandingan untuk merebut suara rakyat (Pemilu), baik di tingkat nasional maupun daerah sebagai buah dari demokrasi. Sebagaimana faham yang dirujuk dari argumen Lincoln (1963), prinsipnya “Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat (by the people, rule the people and for the people)”.
Tantangan dalam Pemilu 2018 nanti adalah Pemilih Pemula dengan rentan usia 17-24 tahun yang nantinya akan mengambil peran sebagai “potential market” untuk melaksanakan hak pilihnya secara utuh, meskipun kurang matang dalam memahami tentang politik tapi mereka akan gunakan suaranya sebagai sarana untuk tokoh/partai yang mereka senangi.
Namun perlu diingat bahwa Pemilu merupakan satu proses penting dalam siklus pelaksanaan demokrasi konstitusional di negara ini. Yakni untuk melahirkan walil-wakil rakyat yang akan melaksanakan mandat penyelenggara kedaulatan rakyat sebagaimana tercantum pada pasal 1 ayat (1) UUD 1945. Oleh karena itu sangat diharapkan dari para pemilih muda untuk memberikan warna dalam perjalanan bangsa melalui melalui hak politiknya dengan baok dan benar, sehingga iklim pemerintahan untuk kedepannya akan lebih baik lagi.
Terkait dengan pelaksanaan pemilu ini, tugas media informasi sebagaimana diamanatkan dalam UU No.40 Tahun 1999 tentang Pers, yang di dalamnya mengutip cara mendidik masyarakat seperti dalam konteks konsepsi kebebasan berekspresi. Yang pada intinya tugas media massa adalah membantu mengupayakan well-informed vooter, para calon pemilih yang kaya dengan informasi aktual dan berimbang atas track record para kontestan Pemilu (Pemilukada).
Menurut McQuail dalam catatan Joyo Nur Suryanto dkk, kepemilikan media (properitorial) amat berperan secara signigikan dalam mendukung independensi editorial berita. Berpindahnya kebebasan dalam status kelompok itu sangat mengurangi independensi dan semangat editorial sebuah surat kabar. Media itu harus memiliki Visi, Integritas dan harga diri untuk tetap netral dan tidak bermain dalam pusaran politik praktis.
Dan kepada Pemerintahan seharusnya merangkul Pers untuk tetap menjaga independensinya guna membangun budaya demokrasi dan pemerintahan yang baik untuk kemaslahatan rakyat.
Dikutip dari pendapat Thomas Jefferson (ilmuwan-Presiden USA) : “When the press is free and every man able to read, all is safe. The press is the best instrument fir enlightening tge mind of man abd improving jom as a rational, moral and social being.” – Semoga Pers mampu memberikan Pencerahan kepada setiap orang. (put/awi).

