PRN Ngawi | Dinas Perpustakaan Kabupaten Ngawi kembali menggelar kegiatan inspiratif bertajuk Lomba Bertutur yang berlangsung selama dua hari, Rabu dan Kamis, 18–19 Juni 2025. Kegiatan ini diselenggarakan di Gedung Kesenian milik Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi, dan menjadi ajang bergengsi untuk menggali sekaligus mengembangkan kemampuan bercerita anak-anak tingkat SD dan MI se-Kabupaten Ngawi.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Ngawi, Kartikawari Pinilih. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa lomba ini merupakan bagian dari upaya literasi budaya sekaligus pelestarian kearifan lokal melalui narasi anak-anak. Lomba Bertutur tahun ini mendapat antusias tinggi dari peserta maupun masyarakat yang hadir.
Kepala Bidang Dinas Perpustakaan, Suyatno, turut memberikan keterangan bahwa tujuan utama dari pelaksanaan Lomba Bertutur ini adalah mendorong prestasi anak-anak Ngawi hingga ke tingkat provinsi, bahkan nasional. “Kami ingin membangun semangat berkisah sekaligus memperkenalkan budaya lokal sejak dini. Dari kegiatan ini, kami berharap muncul bibit-bibit unggul yang bisa mewakili Ngawi ke ajang yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh berbagai tamu undangan, termasuk para kepala sekolah dan guru pendamping yang dengan setia mendukung serta mengawal peserta didik mereka. Tidak ketinggalan, dewan juri yang terdiri dari Ariani Safitri dan Kartika Nita W. dari Surabaya, serta Kusprihyanto dari Ngawi, turut hadir dan memberikan penilaian ketat terhadap penampilan para peserta.
Kegiatan lomba di ikuti 42 lembaga SD maupun MI, Pemenang lomba Bertutur.
1. juara 1. Nilai 260,6 SDN Padas 1.
2. Juara 2, Nilai 257,9 SDN Mojo 1 Bringin. Nilai 256,2.
3. Juara 3.SDN Margomulyo 1.
4. juara harapan 1. Nilai, 253,5 SDN Mantingan 5.
5. Harapan 2. Nilai 252,6 SDN Min 6 ngawi.
6. Harapan 3. Nilai 248,1 SDN Sidolaju 03. Dengan Total hadiah Rp. 16.500.000,-
Dalam hasil wawancara, juri Kusprihyanto menyampaikan apresiasinya terhadap penampilan para peserta. “Anak-anak luar biasa. Di luar ekspektasi kami, mereka tidak hanya mahir bertutur, tapi juga memahami budaya lokal Ngawi dengan sangat baik. Tinggal sedikit polesan, mereka sudah siap ke jenjang yang lebih tinggi,” ucapnya.
Menurut Kusprihyanto, cerita-cerita lokal yang dibawakan oleh peserta memiliki kekuatan dalam membangun karakter dan identitas daerah. Ia juga menilai bahwa terobosan Dinas Perpustakaan ini patut diapresiasi dan bisa menjadi contoh bagi instansi lainnya untuk turut serta menggelar kegiatan serupa demi pelestarian budaya daerah.
Lomba Bertutur ini bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga merupakan bentuk konkret edukasi budaya yang sangat penting dalam membentuk karakter anak sejak dini. Diharapkan ke depan, kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti di tingkat kabupaten, tetapi dapat terus berlanjut hingga menjadi program lintas instansi yang mendukung pelestarian budaya dan literasi nasional. (Jatmiko)



