Kelebihan kapasitas juga menjadi penyebab kepindahan napi.
Mojokerto, PRN.id –
Sebanyak lima warga binaan (napi) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas IIB Mojokerto dipindahkan ke Lapas khusus perempuan kelas IIA di Malang, Sabtu (4/2). Selain karena overload, kelimanya dipindahkan karena bermasalah.
Kepala Lapas Kelas IIB Mojokerto, Hanafi mengatakan, rencananya ada 6 napi perempuan yang akan dipindahkan ke lapas wanita di Malang. “Tapi dari laporan yang saya terima, satu dari mereka melakukan pelanggaran di dalam lapas. sehingga hanya 5 napi yang dipindah,” ungkapnya, seperti dikutip beritajatim.com.
Masih kata Hanafi, sementara satu napi perempuan yang akan dipindah tersebut kepindahannya ditunda. Menurutnya, kelima napi tersebut dipindah dari Lapas Mojokerto ke Lapas Malang, Sabtu (4/2) sekitar pukul 03.30 WIB menggunakan mobil dan dikawal petugas lapas.
“Tujuan agar mendapatkan pembinaan yang lebih baik karena kelimanya pernah melakukan pelanggaran aturan di lapas, seperti kedapatan membawa HP. selain itu, selama ini pembinaanya campur dengan warga binaan laki laki yang rawan timbul masalah,” katanya.
Menurutnya, pemindahkan kelima napi dilakukan dini hari agar tidak diketahui masyarakat dan keluarganya sehingga tidak menimbulkan masalah. Yang dimungkinkan mendapat aksi protes dari keluarga para nara tersebut. Saat ini, jumlah napi dan tahanan di Lapas Kelas IIB Mojokerto sebanyak 650 orang.
“Padahal kapasitasnya, maksimal hanya untuk 300 orang dan jumlah ruangan sel ada 42 ruangan. Setiap ruangan yang seharusnya diisi 5 orang, terpaksa diisi sebanyak 15 orang. Jumlah penghuninya kelebihan separo lebih dan sudah sangat overload sehingga dampaknya pembinaan tidak bisa maksimal,” jelasnya.
Hanafi menjelaskan, dengan pembinaan yang tidak maksimal tersebut banyak menimbulkan gangguan kesehatan dan penyakit, serta kebutuhan makanan yang jumlahnya membengkak. Meskipun kondisinya sekarang sudah overload, pihaknya tetap berupaya meningkatkan pembinaan yang lebih baik.
“Salah satunya dengan menggandeng investor dan UKM, untuk memberikan pelatihan ketrampilan wirausaha agar setelah keluar, mereka bisa berwirausaha sesuai ketrampilan yang didapat. Seperti kerajinan sepatu, pembuatan meubel dan ketrampilan sablon,” pungkasnya. (sam-ron)

