Jakarta, PRN.id – Terkait Pelecehan perkataan yang telah dilontarkan oleh Kabag Humas Surabaya Fikser Morang terhadap Yus Wirawan selaku wartawan deliknews.com yang mengatakan ‘ Wartawan Abal-abal dan Gadungan ‘ , menuai kritik dari Ketua Dewan Pengurus Nasional – Persatuan Pewarta Warga Indonesia (DPN PPWI) Pusat Jakarta.
Dilansir dari beberapa narasumber atas ucapan arogansi Fikser Morang yang mengatakan bahwa “Wartawan yang tidak punya Uji Kopetensi Wartawan (UKW) dan tidak terdaftar di Dewan Pers dianggap Bukan Wartawan (tidak diakui) alias Abal-abal“.
Ketua DPN PPWI Wilson Lalengke SPd MSc MA alumni PPRA angkatan 48 Lemhannas Republik Indonesia Tahun 2012, yang juga merupakan seorang Trainer Jurnalistik bagi ribuan anggota TNI, Polri, Mahasiswa, Guru, Wartawan dan berbagai kalangan lainnya, menyampaikan hal berikut :
- Sikap Arogansi oknum Humas di Pemkot Surabaya itu adalah salah satu buah hasil kerja Dewan Pers tengik, yang bukannya menjadi Pengayom dan Pemberdaya wartawan di negeri ini, tapi justru menjadi lembaga Perusak dan Pembunuh para pekerja jurnalisme Indonesia.
- Oleh karena itu, DPR RI dan Pemerintah semestinya mengevaluasi keberdaan Dewan Pers, termasuk produk kebijakan yang dikeluarkan selama ini.
- PPWI dengan tegas menyatakan dan memperjuangkan pembubaran Dewan Pers dan mengganti lembaga tersebut dengan sebuah Badan Publikasi dan Media Nasional (BPMN), yang tidak hanya mengurus soal aturan publikasi, tapi lebih banyak fokus kepada pemberdayaan wartawan dan seluruh rakyat Indonesia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa melalui dunia jurnalistik.
- Selalu mendukung gerakan wartawan dan pewarta warga di seluruh Indonesia untuk menuntut hak perlakuan yang sama di bidang pemberdayaan ekonomi rakyat dari pemerintah. Wartawan adalah juga Warga Negara Indonesia (WNI) mempunyai hak yang sama dengan warga / rakyat lainnya dalam memperoleh penghidupan yang layak di negeri ini. Dan Pemerintah harus bertanggung jawab terhadap kesejahteraan hidup seluruh rakyat, termasuk Wartawan.
- Semestinya negara menanggung malu di depan publik internasional ketika warga negaranya yang berkecimpung sebagai pekerja jurnalisme dinistakan dan dilecehkan di sana-sini oleh oknum tertentu. Lebih miris dan memalukan lagi ketika penistaan para jurnalis itu dilakukan oleh badan bentukan negara bernama dewan pers dan pemda-pemda serta institusi negara lainnya.
Demikian untuk menjadi perhatian dan publikasi bersama. Terimakasih. Ucap Wilson melalui pesan Whatsapp mesenger. (red/net)

