MATARAM, PRN.id – Mulai tanggal 16-18 Mei 2107, Pemerintah Kota Mojokerto mengikuti kegiatan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) yang pada tahun ini digelar di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam kesempatan ini Walikota Mojokerto Mas’ud Yunus didampingi beberapa kepala OPD menghadiri langsung. Selain itu, Pemkot Mojokerto juga mengikutsertakan kelompok sendratasik yang dinaungi oleh Dinas Pemuda, Olah raga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) yang akan mengisi acara pawai pada puncak acara
Dihari pertama, awak media turut serta dalam rombongan mengikuti perjalanan yang menyempatkan berkunjung di Desa Sukarara Lombok Tengah. Desa Sukarara adalah salah satu desa penghasil songket tenun yang sudah banyak dikenal. Dalam lawatan ke Sukarara, awak media mendapatkan banyak informasi dari salah satu tokoh masyarakat setempat.
Nande, tokoh masyarakat yang ditemui menceritakan sekelumit tentang songket tenun dan adat yang berlaku di desa tersebut. “Desa Sukarara adalah desa yang paling awal dan pusat pembuatan songket tenun. Kalau di daerah lain, itu adalah pengembangan yang dilakukan oleh masyarakat karena melihat songket bisa menjadi peluang usaha yang menguntungkan,” kata Nande
Lanjutnya, menenun songket di Sukarara ini sudah menjadi adat turun temurun. Bahkan gadis di desa ini tidak boleh menikah kalau belum bisa menenun. Adat ini yang tidak dimiliki oleh daerah lain di NTB ini. Maka dari itu, songket produksi Desa Sukarara sangat dikenal. Selain hasil garapan yang bagus dan halus, motivnya juga variatif serta imajinatif.
Menurut Nande, motiv yang asli dan paling awal adalah rumah sasak. Lalu dengan mengikuti perkembangan motiv songket pun berkembang dan beraneka ragam. Harga jual songket pun sangat beragam. Mulai Rp. 50.000,- hingga Rp. 5.000.000,- tersedia. Semua tergantung dari tingkat kesulitan dan lama pengerjaannya.
Untuk pemasaran produk itu sendiri, Nande menuturkan bahwa tidak mengalami kendala yang berarti. Hal itu dikarenakan NTB mempunyai kekayaan alam yang mampu menarik ribuan wisatan baik domestik maupun mancanegara. Sebagai kawasan pariwisata, menjadi keuntungan tersendiri bagi para pengrajin songket khususnya untuk bisa menjual produk sebanyak mungkin.
Saat ditanya omset penjualan pada galeri miliknya, Nande menjawab untuk hari-hari biasa bisa laku terjual 30-40 dalam sebulan,, itu pun dengan harga yang variatif. Tapi jika pada moment liburan bisa lebih. (Bersambung) (ron)

