PRN ACEH – Tarian Warga Binaan Pemasyarakatan cabang Rutan Lhoknga tampil dalam pengukuhan Paguyuban IBU-Ibu Pemasyarakatan (PIPAS) Aceh, kamis(22/2) di Cabang Rumah Tahanan Negara Lhoknga.
Bapak kakanwil kemenkumham aceh memberikan apresiasi baik terhadap penampilan tarian warga binaan tersebut, karena di dalam mereka juga diberikan pembinaan untuk mengembangkan minat dan bakat menari.
“Mereka tetap kami bina dengan sebaik-baiknya sesuai minat dan bakatnya meskipun di dalam masih tetap bisa berkreasi dalam seni” ujar Kacabrutan Lhoknga Priyo Tri Laksono.
Sebagai pembukaan acara tersebut tarian yang ditampilkan adalah Tari Ranup Lampuan yang merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Aceh.
Tarian ini termasuk tarian penyambutan yang biasanya dibawakan oleh penari wanita dengan menyuguhkan sirih sebagai tanda terima masyarakat.
Tari Ranup Lampuan merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Aceh, dan sering ditampilkan untuk menyambut para tamu terhormat maupun acara penyambutan adat lainnya.
Tari Ranup Lampuan pertama kali diciptakan pada tahun 1959 oleh salah satu seniman terkenal dari Aceh yang bernama Yusrizal. Nama Tari Ranup Lampuan ini diambil dari kata “Ranup” dan “Lampuan”. Kata Ranup sendiri dalam bahasa Aceh berarti “Sirih”, sedangkan Puan adalah tempat/wadah sirih khas Aceh.
Tarian penyambutan ini selalu identik dengan sirih dan puan, yang dalam tradisi masyarakat Aceh memiliki nilai-nilai dan makna khusus di dalamnya. Dalam adat masyarakat Aceh, sirih dan puan dapat dimaknai sebagai simbol persaudaraan antar masyarakat.
Sehingga ketika tamu disuguhkan sirih tersebut,berarti dia sudah diterima dengan baik oleh masyarakat di sana. Begitu juga apabila tamu sudah menikmati suguhan tersebut, berarti dia menerima sambutan baik yang diberikan oleh masyarakat di sana.
Selain penampilan tarian tersebut di akhir acara Pipas Aceh tersebut, warga binaan pemasyarakatan Cabang Rutan Lhoknga juga menampilkan tarian aceh Keunebah Indatu yang merupakan warisan Budaya Aceh yang telah dikolaborasi antara Seudati dan Rapai, yang mencerminkan bahwa orang aceh dimasa silam membentuk hiburan yang berbaur dengan doktrinitas Agama Islam.
Tarian dalam lagu ini mencerminkan sebuah Daerah diujung pulau Sumatra yang diberi limpahan Rahmad berupa kekayaan Alam oleh sang pencipta, sehingga aplikasi atau pesan dari lagu dalam tarian keuneubah indatu yaitu menjaga,mengembangkan serta membangun Budaya Aceh sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh budaya asing. (pri).

