close
OPINI

KRITIK SOSIAL DALAM FENOMENA PETRUK DADI RATU BAGIAN I

Oleh:

Ahmad Syafii, M.Pd.I.

(Dewan Redaksi Pena Rakyat News dan Pengurus Biro Hukum Yuris Surabaya)

Dunia ini tak ubahnya panggung sandiwara, begitu kata Ki Lurah Semar Bodronoyo memberikan wejangan kepada anak-anaknya di Padepokan Karangkedempel. Belum selesai tutur kata sang Semar, disahut oleh Gareng dengan berkata; tatanan yang ada perlu dijalankan, itu bagi yang mau menjalankan dengan konsisten, namun bagi yang tidak mau menjalakan bukan soal, bukankah begitu mo (sebutan romo), karena soal bank mengikuti pasar, lanjutnya.

Ucapan Gareng memicu komentar si Bagong; betul, ngomong-ngomong soal bank biangnya sudah ketangkap, kata Bagong sembari melanjutkan celoteh sekenanya, karena soal tidak dapat digadaikan meskipun dapat diperjual belikan, ciluuk baaa, ciluuuk baaa, (sambil membuka dan menutup bajunya yang tidak dikancingkan untuk memeragakan buka tutupnya aurat) saya tidak tahu menahu, yang penting saya masih bisa nggodog telo (merebus singkong) untuk mengganjal perut sehari-hari hehhehehe, kata Bagong.

Semar Bodronoyo pun memotong dengan khasnya, oohhh tolee tole, mbegegeg ugeg ugeg hmel hmel sak ndulito toleeee, eling senadyan nang ndunyo ono dol tinuku nanging engkang akaryo jagad nyekeli paugeran hukum alam (sunnatullah). Tegese hukum alam, akan berjalan sesuai dengan perputaran matahari dan bulan. Jika waktunya muncul disiang hari matahari bersinar namun jika malam tiba giliran bulan yang terang, jangan coba-coba mengingkari kodrat. Ingat, becik ketitik olo ketoro, toleee, dadi kudu seng ngati-ati lakumu, begitu Semar memberi wejangan.

Begitulah guyonan punakawan saat bercengkrama. Selain itu Semar menanyakan keberadaan Petruk. Karena biasanya diwaktu longgar para punakawan saling bercengkrama dan bergurau membicarakan perkembangan politik pewayangan dengan sesekali menjejali gurauan. Namun saat itu si Petruk tidak muncul batang hidungnya maka wajar Semar Bodronoyo menanyakan. Gareng dan Bagong pun membisu karena tak tahu keberadaan si Petruk. Sebab terbiasa kode etik dunia pewayangan kalau tidak tahu, tidak mengaku tahu, karena bisa menyesatkan.

Dikisahkan pada jejer pewayangan, Abimanyu putra Arjuna tengah menderita sakit. Sejak kecil Abimanyu telah didik dan dan dibesarkan oleh Prabu Krisna. Kelak Abimanyu yang akan mewariskan dampar keprabon (tahta) Pulasara Astina Pura kepada putranya yang bernama Parikesit. Ketika sang Abimanyu putra keturunan langsung dari Arjuna mengalami sakit parah, maka pada saat itu, ada tiga wahyu yang dimiliki dan kemudian oncat pergi dari dalam dirinya. Ketiga wahyu tersebut adalah, Wahyu Maningrat, Wahyu Cakraningrat, dan Wahyu Widayat.

Wahyu Maningrat, wahyu maningrat adalah sebuah wahyu tentang benih nur keprabon, wahyu keprabon merupakan wahyu yang dapat menebarkan kelayakan dan kepantasan sesorang untuk menduduki singgasana puncak kekuasaan. Karena kekuasaan itu menyerupai dengan kekuatan maka dalam diri seseorang akan bersemayam sebuah wahyu yang dikenal dengan sebutan wahyu maningrat.

Wahyu Cakraningrat, wahyu Cakraningrat adalah wahyu keajaiban yang memiliki daya kewibawaan dan menjaga keberadaan sesorang ketika menduduki dampar kencono keprabon, dengan wahyu cakraningrat maka seseorang dengan sendirinya akan mendapatkan kepintaran dadakan perihal olah keprajan. Kepinteran seseorang tersebut otomatis melalui proses tetapi hasilnya maksimal ketika sebagai raja/ratu. Selain itu orang yang bersangkutan enggan untuk melakukan perbuatan nista, karena telah melekat secara tidak langsung untuk menjauhi perbuatan nista termasuk didalamnya trik dan intrik keji. Oleh karenanya ada sebutan sabdo pandito ratu tan keno wola wali, karena mohal bagi sang raja/ratu berucap lamis, artinya akan terhindar membuat keputusan yang tidak populer.

Wahyu Widayat. wahyu Widayat adalah suatu wahyu keajaiban yang melestarikan hidupnya dengan trah sebagai raja/ratu (keprabon). Artinya garis keturunan seorang raja/ratu tersebut turun temurun sepanjang garis keturunan kebawah adalah murni dari darah daging seorang raja tersebut. Maka dalam sekian turunan anak cucunya akan memiliki bakat keprabon, kecuali terdapat error sistem, seperti pelanggaran norma dan etika, dan lain sebagainya yang disepakati (kode etik kemaharajaan).

Dalam jagad wayang, ketiga wahyu tersebut sebagaimana yang dimiliki oleh sang Abimanyu yakni wahyu maningrat, wahyu cakraningrat, dan wahyu widayat telah lepas dari dalam dirinya, maka mencari tempat baru yang kemudian melesat hinggap dan merasuk pada jleger piadegnya Petruk putra Semar yang statusnya sebagai pelayan (rewang) di istana kerajaan sang Abimanyu. Wal khasil Petruk pun akhirnya menjadi raja di suatu kerajaan yang kemudian dinamakan Kerajaan Lojitengoro. Petruk Kantong Bolong menyandang gelar Prabu Wel Geduwel Beh Tong Tong Sot yang diberikan saat pengukuhan dan disaksikan para raja kecuali Prabu Krisna.

Untuk pengukuhan dirinyaa menjadi raja dadakan tersebut, ternyata Prabu Wel Geduwel Beh alias Petruk Kantong Bolong Prabu Tong Tong Sot membutuhkan dampar kencono kerajaan Astina Pura yang merupakan warisan Palasara. Maka sang Prabu Tong Tong Sot memberikan perintah kepada patihnya. Karena sang prabu memiliki dua orang pejabat tinggi yang menduduki kursi Kepatihan. Kedua patih pendukung dadakan Prabu Tong Tong Sot tersebut bernama Bayutinoyo merupakan titisan sang Hanoman dan Wisandhanu mijil sebagai titisan Wisanggeni anak Arjuna buah perkawinan dengan Dewi Dresonolo Putri Batara Bromo.

Selanjutnya kedua utusan yakni Patih Bayutinowo dan Patih Wisandhanu menuju Astina Pura mencuri tahta kerajaan. Keduanya pun berhasil menemukan dan membawanya ke Lojitinowo tanpa hambatan yang berarti. Prabu Tong tong Sot alias Prabu Wel Geduwel Beh pun mencoba untuk duduk di tahta dampar kencono dari singgasana Astina tersebut. Namun apa yang terjadi, seperti layaknya raja pada umumnya duduk dengan penuh wibawa begitu harapan si Petruk Kantong Bolong, ternyata jauh panggang dari api. Begitu saat duduk menyentuh tahta singgasana tersebut seketika itu juga Prabu Tong Tong Sot jatuh Terjungkal. Kejadian itu menimpa sang prabu berulang-ulang.

Ketika sang Prabu berulang kali terjungkal, pendek cerita sang Prabu menyerah dengan keadaan yang dialami, maka datanglah penasehat raja memberi jalan keluar dengan berbisik. Untuk menghindari kejadian serupa maka sang prabu harus memiliki momongan berupa golek kencono dengan ketentuan golek (boneka) dimaksud dapat diajak bercanda (ditimang-timang). Seketika itu sang prabu pun memberikan intruksi lagi kepada kedua patihnya Bayutinoyo dan Wisandhanu untuk mencari keberadaan boneka tersebut.

Menguak jejer pewayangan tokoh Petruk tersebut sebuah lakon yang acap kali muncul dalam kehidupan nyata. Dunia terkadang terbalik, harapan terkadang kandas, bahkan tanpa melalui sebuah cita dan perencanaan ujug-ujug menjadi sebuah kenyataan. Begitulah keterbatasan akal manusia yang skenarionya tak harus Tuhan selalu mengiyakan sehingga suatu ketika sebuah ambisi yang tidak bersih akan membentur dinding humen error, karena Tuhan memiliki skenario tersendiri. Peribahasa mengatakan tak kan lari gunung dikejar hilang kabut tampaklah dia, makna terbaliknya adalah sebuah ambisi dilakukan dengan grusa-grusu dan instant akan menimbulkan marabahaya. Kisah Petruk tersebut dapat disimak pada edisi berikutnya.

Tags : Kritik SosialSurabaya

Leave a Response

*