close
OPINI

Alasan Orang Mau Menaati Hukum, Begini Penjelasannya

Iskandar Laka, S.H.M.H.
(Konsultan Hukum Pena Rakyat News Dan Dosen FH Universitas Yos Soedarso Surabaya)

Alasan orang mau menaati hukum menurut Prof. Dr. B. Arief Sidahrta, S.H. terdiri dari lima hal. Begini penjelasannya.

Pertama adalah karena takut dengan sanksi hukum yang dianggapnya suatu petaka. Menurut Sidharta orang menaati hukum karena takut akan sanksi (hukuman). Sanksi itu adalah petaka bagi yang terkenanya. Hukuman itu dijatuhkan kepada seseorang yang terbukti melanggar hukum dan diputus bersalah oleh pengadilan. Hukuman pada dasarnya adalah perwujudan konkretisasi kekuasaan negara dalam pelaksanaan kewajibannya untuk dapat memaksakan ditaatinya hukum.
Keberadaan sanksi secara normatif, seseorang memiliki rasa takut misalnya takut dipenjara yang secara otomatis segalanya serba dibatasi dengan aturan secara ketat didalamnya. Karena serba terbatas, hak-hak dalam keseharian sebagai kenikmatan tercerabut menyebab kehidupan nestapa yang mana beum apa-apa sudah terbayang dalam benak seseorang. Maka perasaan takut pun tak dapat dihindari oleh seserang pada umumnya. Akhirnya Upaya untuk menghindari penjara mengalir begitu saja.

Kedua menurut Arief Sidharta, oarng mau menaati hukum karena memang benar-benar orang yang taat dan soleh serta dapat membedakan antara yang baik dan buruk.
Dia sadar bahwa dalam kehidupan itu terdapat dua pilihan yang harus dipilih yang tidak mungkin memilih keduanya atau juga memilih keduanya.
Maka berbuat kebaikan dapat konsekuensi yang baik pula terhadap diri seseorang sehingga rasa damai, ketenangan diri dan kebahagian sangat terbuka lebar jalan kehidupannya. Namun begitu sebaliknya jika berbuat buruk atau jahat terhadap pihak lainnya dapat berimplikasi ketidakbaikan bagi pelakunya.
Jadi menurut Sidharta, pada situasi dan kondisi kehidupan normal sebenarnya seseorang bisa menggunakan pilihannya, tetapi kkarena keadaan yang situasional terdapat potensi seseorang memilih untuk berbuat jahat dan salah, terlepas diengaja atau tidak meskipun perbuatannya itu merugikan orang lain.

Ketiga, menurut Sidharta, orang menaati hukum karena pengaruh lingkungan dalam hal ini masyarakat sekelilingnya. Hal itu karena manusia tidak mungkin dapat sendirian, tetapi selalu hidup berdampingan dengan masyarakat. Masyarakat secara langsung atau tidak langsung, dapat memberikan warna dan pengaruh, baik ataupun buruk, terhadap warganya.
Masyarakat dapat mempengaruhi baik apabila lingkungan disekitarnya juga baik dan begitu pula sebaliknya dimana masyarakatnya berperilaku tidak baik, maka masyarakatnya juga akan terkena dampak yang tidak baik. Besarnya pengaruh masyarakat terhadap perilaku seseorang atau keluarga adalah realitas yang ada dan tidak dapat dibantah.
Hal ini terjadi, karena masyarakat dan hukum dapat saling mempengaruhi, sehingga keduanya memang dapat saling mengisi yang akan tergantung pada pola perilaku masyarakatnya. Nah, kemungkinan sebagaimana tersebut itu ada, karena dimana ada masyarakat maka di situ pulalah akan ada hukumnya. Dengan dasar berpikir demikian, maka akan jelasl bahwa ketaatan masyarakat terhadap hukum sangat besar pengaruhnya Sehingga melalui jalan ini dapat dipahami bahwa ketaatan masyarakat terhadap hukum dan dominasi kebiasaan untuk taat sangat berperan besar sekali.
Budaya ketaatan mengantri atau menggunakan seat belt di mobil adalah refleksi masyarakatnya untuk taat kepada hukum yang berlaku. Begitu halnya dengan ketidakaatan pengendara motor yang melawan arus adalah potret masyarakatnya itu sendiri yang tidak taat kepada hukum dimana pengaruh masyarakat sangat besar adanya. Artinya, ketaatan dan ketidaktaatan terhadap hukum itu juga akan bergantung kepada masyarakatnya yang menjadi salah satu kontributornya.

Kemudian keempat menurut Sidharta, orang menaati hukum atau mengikuti peraturan hukum karena tidak ada pilihan lain. Dalam hidup dan kehidupan manusia dihadapkan kepada dua pilihan dalam hal ketaatan. Pilihan jatuh kepada cenderung untut taat kepada aturan, tetapi juga ada orang yang memang tidak berkehendak tidak taat kepada aturan. Menjadi hidup taat dan teratur bagaikan jalan terjal berbanding terbalik dengan tidak taat di mana kemudahan dan tidak repotnya menjadi dasar untuk melakukannya.

Hal ini, karena secara alamiah manusia memang tidak mudah menjalani kehidupan susah dan salah satunya adalah taat kepada aturan yang berlaku. Ketaatan terhadap aturan adalah sebuah pilihan yang baik dan menjadikan hidupnya menjadi damai, aman tentram dan tenang. Namun, terkadang manusia juga terpaksa melanggar aturan (tidak taat), sehingga harus bertanggung-jawab atas perbuatannya itu. Dengan dasar kerangka konsekuensinya inilah, manusia sedapat mungkin tidak melanggar aturan yang berlaku karena melanggar berarti sama saja akan sanksi hukumnan terhadapnya.

Artinya, terpaksalah manusia memang harus mentaati aturan sebagai pilihan dan jalan terbaik, sehingga mentaatinya itu karena memang tidak ada hak kepadanya untuk dapat memilih. Hal ini bagaikan peribahasa bagai makan buah simalakama” yang dalam tulisan ini mengandung arti tidak punya pilihan. Pilihan yang mau ke kiri salah, ke kanan salah, maju salah, mundur pun salah, sehingga memang hanya satu yang harus dipilihnya yaitu terpaksalah taat sebagai jalan terbaik karena memang tidak ada pilihan lainnya. Jatuhnya pilihan taat karena tidak pilihan lainnya dengan satu celah kemungkinan tidak terpaksa taat yaitu berupa akan terjadinya penghukuman sanksi terhadap orang berbuat salah dan melanggar aturan yang berlaku.

Kelima, Sidharta menyampaikan, orang menaati hukum itu karena kombinasi keempat faktor tersebut di atas. Hal ini adalah konsekuensi logis gabungan dari keempat penyebab mengapa orang menaati hukum. Artinya, dapat saja orang menaati hukum itu disebabkan oleh salah satu atau lebih, bahkan mungkin semuanya, sebagai hal yang menjadi latar belakang ketaatannya. Maksudnya, bergantung pada kejadian masing-masing, yang bisa berbeda atau sama.

Dengan demikian, ketaatan orang dalam kehidupan manusia mengikuti penyebabnya yang bersifat personal pelakunya. Apakah karena penyebab pertama, kedua, ketiga atau keempat dan bahkan sangat terbuka bahwa realitasnya dapat saja terjadi gabungan keseluruhannya.

Belajar dari penjelasan dan pemaparan tersebut di atas terbuka untuk dapat memahami dengan lebih baik di mana penyebab utamanya ketaatan itu ada dan berasal. Diharapkan melalui cara demikian dapat dipotret dengan lebih jelas, baik secara sosiologis dan secara antropologis, termasuk ilmu hukum itu sendiri soal ketaatan masyarakat terhadap hukum yang berlaku. Sebuah usaha awal untuk dapat mencari jawaban terhadap pertayaan yang mendasari mengapa hukum itu ditaati.

Tags : Mentaati HukumSurabaya

Leave a Response

Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2021