PRN SUMENEP | Program kegiatan Kementerian Pendidikan Dan Budaya ‘Pagelaran Seni Budaya Pesona Kota Tua’ menjadi sorotan aktivis/lembaga dan wartawan, khususnya di wilayah Kalianget, ujung timur pulau Madura Jawa Timur. Ahad 28/11/2021.
Pasalnya kegiatan tersebut yang diduga menggunakan Anggaran Perencanaan Belanja Negara (APBN) Tahun 2021, tertutup informasinya kepada pihak media. Pagelaran tersebut hanya dihadiri oleh para undangan saja dari pihak petinggi dan pejabat Pemerintah yang diantaranya, Camat Kalianget, Pemerintahan Desa Kalianget Timur, Dirut beserta Direksinya, tokoh masyarakat, budaya dan kesenian, serta perwakilan pelaku seni dan budaya, digelar di dalam gedung serbaguna guna yang tertutup dari publik yang bertempat di area Kantor pusat PT. Garam Persero, Sabtu malam 27/11/2021.
Yang nampak mengejutkan, suara dilontarkan salah satu wartawan yang biasa sering meliput kegiatan PT Garam, mengatakan bahwa wartawan yang tidak memiliki kalung undangan tidak bisa masuk untuk meliput kegiatan didalam dan saat acara dimulai pintu gedung sempat ditutup rapat-rapat untuk media. Tapi tidak lama kemudian setelah awak media melakukan konfirmasi dengan Humas PT. Garam dan akhirnya di berikan ijin masuk untuk melakukan peliputan di dalam.
Sedangkan keterangan yang disampaikan dari Ketua panitia Herman Suryansah (PNS) staf di Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumenep, maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut adalah memberdayakan potensi desa dengan daya warga khususnya di kepemudaan, agar memiliki ketertarikan atau daya tarik untuk mengetahui kesenian dan budaya yang ada di daerahnya, Ahad 28/11/2021.
“Dengan era globalisasi pada saat ini dan perkembangan zaman yang semakin maju pesat dengan teknologi, para pemuda kita banyak tidak mengenal akan seni dan budaya yang dirintis oleh para sesepuh pelaku seni yang sudah usia lanjut. Dengan adanya kegiatan ini akan mengetuk tularkan kepada para pemuda, sehingga dengan adanya pagelaran seni ini para pemuda bisa dapat mengenalnya,” ujar Herman.
Kegiatan pementasan hiburan kesenian dan kebudayaan tersebut yang terkesan digelar secara diam-diam, mendapat sorotan dan kritikan serius dari aktivis dan pemuda Kalianget, sebut saja dengan nama ‘Mr.’, bahwa kegiatan tersebut diduga digelar hanya sebagai formalitas saja untuk menyedot dan menghabiskan anggaran negara saja.
“Kalau kegiatan tersebut bertujuan untuk memperdaya masyarakat dan para pemuda pada umumnya, serta ingin melestarikan kesenian dan kebudayaan Kalianget. Kenapa kegiatan tersebut digelar didalam gedung tertutup hanya ditonton cuma para undangan saja, yang cuma dihadiri para petinggi dan pejabat Pemerintah saja dan tidak bisa di tonton oleh para pemuda yang lain. Kenapa juga tidak melibatkan aktivis/lembaga serta media yang bisa membantu mempublikasikan kegiatan tersebut?” Tanya aktivis yang masih muda dengan suara lantangnya, kepada wartawan.
Berdasarkan Informasi yang dihimpun awak media dari Ketua panitia, kegiatan pentas seni dan budaya tersebut adalah kegiatan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang notabenenya penunjukan langsung kepada desa, di mana di Kabupaten Sumenep itu ada dua desa yang ditunjuk untuk menggelar pagelaran tersebut.
Ketua panitia beralasan kegiatan pentas seni tersebut dibatasi dari pengunjung dan ditaruh di gedung tertutup, karena atas petunjuk dari gugus Covid-19 dan petunjuk juga dari polsek setempat guna untuk menghindari terjadinya kerumunan dari pengunjung dan penonton dari luar.
Kenapa PPKM dan Covid-19 selalu dijadikan alasan oleh pihak Pemerintah kepada masyarakat, sedangkan diluar sana kegiatan masyarakat, pementasan hiburan dan kegiatan masyarakat sudah banyak di lakukan?
Disaat awak media menanyakan terkait besarnya anggaran yang digunakan pada kegiatan pagelaran pentas seni dan budaya tersebut Ketua panitia yang bekerja di Disparbudpora Sumenep enggan menjawab. (Erf/Tim)

