
PRN MOJOKERTO | Saat ini lebih 10.000 rumah tangga di Mojokerto, Jawa Timur, telah terhubung dengan jaringan distribusi gas bumi sehingga mereka tidak perlu lagi belanja LPG tabung.
Namun dalam keberhasilan pemerintah mendistribusikan gas terdapat sedikit ganjalan dan respon negatif dari masyarakat, seperti halnya masyarakat lingkungan Kranggan Kota Mojokerto.
Bagaimana tidak dari pantauan awak media Pena Rakyat News, diketahui didalam area sekolah tempat belajar mengajar di SDN KRANGGAN 5 telah terdapat gardu jaringan gas atau stasiun gas untuk mensuplay gas wilayah Kranggan dan sekitarnya sebagai pengganti tabung gas.
Hal ini menjadikan bahan penbicaraan warga sekitar SDN Kranggan dan yang paling kawatir adalah Kepala SDN Kranggan 5 Wiwik Misnawati, dalam keterangannya dengan Pena Rakyat News beberapa waktu lalu Wiwik menyampaikan bahwa dirinya saat diundang rapat oleh Dinas telah menyampaikan keberatannya terkait penempatan Gardu atau stasiun Gas di lingkungan sekolahannya, mengingat lingkungan sekolah seharusnya steril dari hal-hal yang membahayakan keselamatan dan kesehatan anak-anak. Namun sayangnya Wiwik tidak dapat berbuat banyak dan Lurah Kranggan juga mensepakati.
Sedangkan saat ini yang dikeluhkan anak-anak dan warga sekitar selain dampak stasiun gas di lingkungan sekolah juga setiap hari anak-anak dan warga sekitar harus menghirup udara atau bau yang tidak sedap yang diduga keluar dari Stasiun gas tersebut.
Sementara melalui seluler M.Roichan SH. Selaku Lurah Kranggan memberikan komentar bahwa, terkait stasiun gas yang berada di lingkungan SDN Kranggan sudah melalui tahapan rapat dari dinas pemerintahan Kota Mojokerto seperti halnya Aset dan bidang perekonomian. Roichan juga menyampaikan bahwa saat ini kegiatan pengoperasian gas belum berjalan dan masih uji coba. Terkait dampak yang akan ditimbulkan terhadap lingkungan, Roichan memastikan bahwasanya keberadaan stasiun gas tersebut tidak berdampak apapun. Tutupnya.
Penulis : Samsul.

