PRN Ngawi | Pemerintah Desa Jatigembol menggelar pelatihan pembuatan pupuk organik yang diikuti oleh empat kelompok tani setempat. Kegiatan ini dilaksanakan di balai desa Jatigembol dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta yang selama ini mengandalkan pupuk kimia untuk kebutuhan pertanian.
Pelatihan tersebut menghadirkan narasumber dari PPL dan BPP Dinas Pertanian, Kukuh Eko Santoso, serta POPT dari BPP Lilik Khoirul Rahmawati, panggilan akrabnya Rahma. yang memberikan materi lengkap mulai dari teknik pembuatan hingga manfaat penggunaan pupuk organik. Keduanya menekankan pentingnya kemandirian petani dalam menyediakan pupuk alternatif yang ramah lingkungan dan lebih ekonomis.
Dalam paparannya, narasumber menjelaskan bahwa pupuk organik mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan, serta mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia. Hal ini dinilai sangat relevan mengingat ketersediaan pupuk bersubsidi sering kali terbatas dan terlambat sampai ke petani.
Ketua Kelompok Tani Desa Jatigembol menyampaikan rasa lega dan optimisme setelah mengikuti pelatihan tersebut. Ia menilai bahwa kemampuan membuat pupuk organik dapat menjadi solusi ketika pupuk seperti Urea maupun NPK (Ponska) mengalami kelangkaan atau keterlambatan distribusi. Menurutnya, hasil dari pupuk organik juga tidak kalah dalam meningkatkan produktivitas tanaman.
Para peserta pelatihan berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan secara berkelanjutan di masing-masing kelompok. Mereka juga berkomitmen untuk mulai memproduksi pupuk organik secara mandiri dengan memanfaatkan limbah pertanian maupun bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Kepala Desa Jatigembol, Budi Sulistyonarko, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh kelompok tani yang telah mengikuti pelatihan dengan serius. Ia berharap materi yang disampaikan narasumber dapat benar-benar dipelajari dan diterapkan sehingga mampu membawa dampak positif bagi sektor pertanian di desa.
Dengan adanya pelatihan ini, Pemdes Jatigembol berharap para petani semakin mandiri, produktif, dan mampu beradaptasi menghadapi tantangan pertanian modern. Pelatihan ini juga menjadi langkah awal untuk mendorong pertanian berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. (Jatmiko)


