PRN MOJOKERTO – Indonesia terkenal dengan kultur budaya dan sejarah yang sudah diakui dunia, dari Majapahit, Troloyo (Syeh Jumadil Kubro) dan lainnya, namun masyarakat lokal juga tidak meninggalkan sejarah terbentuknya wilayah seperti halnya Dlanggu.
Dlanggu, tepatnya desa Sroyo sudah terkenal seantero jagat terdapat makam bersejarah yaitu “Makam Mbah Taslim”
Hari ini Jumat Wage masyarakat desa Sroyo dikawal oleh kepala dusun dan Kaur Kesra memimpin doa (Tahlil) bersama untuk mendoakan Mbah Taslim di halaman makam.

Kilas balik sejarah Mbah Taslim adalah seorang wali dan merupakan murid atau jama’ah dari Pangeran Diponegoro yang berasal dari Mataram. Mbah Taslim seorang murid Pangeran Diponegoro yang tidak menikah dan tidak mempunyai anak. Beliau dijuluki sebagai Ma’rifat, yaitu orang yang sakti dan keturunan wali. Pada tahun 1825 Mbah Taslim bersama muridnya yang bernama Mbah Abdullah Husen, Mbah Tayib mereka hijrah ke saerah Sasap Mojokerto.
Sekitar Tahun 1827 Mbah taslim meninggalkan murid-muridnya di sasap, beliau menyuruh murid-muridnya untuk menetap di Sasap Mojokerto. Sedangkan Mbah Taslim meneruskan perjalanannya ke Brangkal dan berakhir sampai di dusun Sroyo Desa Dlanggu Mojokerto. Dan saat itu ada Sayembara “Sapa sing iso mbabat alas wono sroyo wiwitan lor nganti kidul”. Kemudian Mbah Taslim mulai babat alas daerah wono sroyo, sewaktu melakukan babat alas tinggal sedikit, Mbah Taslim mengalami kesulitan yaitu di bagian barat daerah sroyo selalu muncul sinar atau cahaya (yang sekarangjadi tempat makamnya Mbah Taslim).Kemudian Mbah Taslim memberi nama Dusun Wono Sroyo dan sekarang berubah menjadi Dusun Sroyo. Di Dusun Sroyo Desa Dlanggu itulah Mbah Taslim menyebarkan agama islam sampai beliau wafat dan dimakamkan di Dusun Sroyo Desa Dlanggu Mojokerto. Sampai sekarang makam Mbah Taslim masih banyak yang mengunjungi dari berbagai kalangan,dan tempatnya pun masih dirawat dengan baik oleh warga Sroyo Dlanggu (dikutip dari disparpora.mojokertokab.co.id). (sh07/Taufik).

