Nganjuk, penarakyatnews.id – Panen raya seharusnya menjadi momen yang membahagiakan bagi para petani. Namun justru sebaliknya, petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk, sedih karena harga bawang anjlok.
Harga bawang ditingkat petani Rp6 ribu hingga Rp7 ribu padahal harga produksi per Kg Rp10 ribu. Idealnya harga bawang merah adalah Rp15 ribu per Kg sesuai dengan janji pemerintah. Kondisi ini membuat petani tak berdaya.
“Ibaratnya saat ini petani bawang merah menjerit. Jangankan untung, bisa jadi kita malah merugi,” kata salah petani yang tinggal di Desa Sukomoro-Nganjuk.
Persoalan yang membelit petani bawang merah tak hanya saat panen. Namun, juga selama proses menanam komoditas tersebut. Serangan hama ulat yang muncul sejak awal proses penanaman sulit diatasi. Berbagai jenis dan merek pestisida telah digunakan, tetapi hama ulat masih saja menyerang daun bawang merah. Jika tak segera diberantas, daun bawang merah akan layu dan kering.
Selain disemprot pestisida, petani masih harus mengambil secara manual hama ulat itu dengan cara memetik daun yang diserang. Sebab, hama tersebut ternyata masih hidup dan berkembang biak di dalam daun bawang.
“Hasil panen hancur, salah satunya karena serangan hama ulat. Rendemen bawang juga rendah karena cuaca tidak menentu sehingga harganya turun,” ujarnya.
Sementara itu, Mantri Pasar Sukomoro Bowo mengatakan, mayoritas warga di Desa Sukomoro bergelut dalam sektor pertanian bawang merah. “Profesi” itu sudah dilakoni secara turun-temurun. Sayangnya, meski jadi gantungan hidup, hasil panen bawang merah tahun ini malah tak bisa diandalkan.
“Kondisi cuaca selama beberapa bulan terakhir cenderung ekstrem. Hal itu tidak mendukung untuk produksi bawang yang melimpah dan berkualitas dan terkait anjloknya harga bawang merah, pihaknya tak bisa banyak berbuat. Sebab, hal itu juga bergantung mekanisme pasar. Namun, pemerintah desa tak tinggal diam terkait persoalan ini.” Jelasnya. (bing)

