By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
PENA RAKYAT NEWSPENA RAKYAT NEWSPENA RAKYAT NEWS
Notification Show More
Font ResizerAa
  • POLITIK
  • LAWAN KORUPSI
  • HUKUM
  • KRIMINAL
  • KABAR JATIM
  • NUSANTARA
  • OPINI
  • MENU LAINNYA
    • METRO JABODETABEK
    • KABAR POLISI
    • BISNIS
    • HIBURAN
    • OLAHRAGA
    • MATA LELAKI
    • SELEB
Reading: Pernyataan Badan Pusat Statistik Indonesia – Bank Dunia Tentang Garis Kemiskinan
Share
Font ResizerAa
PENA RAKYAT NEWSPENA RAKYAT NEWS
  • POLITIK
  • LAWAN KORUPSI
  • HUKUM
  • KRIMINAL
  • KABAR JATIM
  • NUSANTARA
  • OPINI
  • MENU LAINNYA
Search
  • POLITIK
  • LAWAN KORUPSI
  • HUKUM
  • KRIMINAL
  • KABAR JATIM
  • NUSANTARA
  • OPINI
  • MENU LAINNYA
    • METRO JABODETABEK
    • KABAR POLISI
    • BISNIS
    • HIBURAN
    • OLAHRAGA
    • MATA LELAKI
    • SELEB
Follow US
Beranda » Blog » Pernyataan Badan Pusat Statistik Indonesia – Bank Dunia Tentang Garis Kemiskinan
METRO JABODETABEK

Pernyataan Badan Pusat Statistik Indonesia – Bank Dunia Tentang Garis Kemiskinan

Redaksi
Last updated: 14 September 2026 10:17 am
Redaksi
Published: 14 September 2026
Share
SHARE

PRN Jakarta | Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia dan Bank Dunia menjelaskan perbedaan angka kemiskinan Indonesia yang mencolok, yakni 8,07 persen menurut BPS dan 64,1 persen menurut standar Bank Dunia. Perbedaan tersebut terutama disebabkan penggunaan garis kemiskinan dan tujuan pengukuran yang berbeda, bukan karena memburuknya kondisi kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam pernyataan bersama BPS dan Bank Dunia yang dirilis di Jakarta, 10 September, disebutkan BPS menggunakan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) sebagai sumber data, demikian pula Bank Dunia. Namun, keduanya mengukur kemiskinan dengan cara berbeda karena memiliki tujuan pengukuran yang berbeda.

BPS mengukur kemiskinan berdasarkan biaya hidup di Indonesia. BPS menghitung jumlah pengeluaran minimum yang dibutuhkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan pokok lainnya, seperti perumahan, pakaian, dan transportasi, di 75 wilayah perkotaan dan perdesaan di setiap provinsi.

Angka tersebut diperbarui dua kali setahun untuk menyesuaikan perubahan harga. Pada Maret 2026, garis kemiskinan nasional tercatat sebesar Rp669.235 per orang per bulan atau sekitar US$3,60 per hari.

Garis kemiskinan nasional tersebut dirancang untuk memberikan gambaran kemiskinan yang lebih akurat dengan mencerminkan standar dan kondisi kehidupan masyarakat Indonesia.

Sementara itu, Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan internasional untuk membandingkan standar hidup antarnegara. Karena itu, Bank Dunia menggunakan standar yang sama, bukan garis kemiskinan berdasarkan harga dan pola konsumsi masing-masing negara.

Bank Dunia menggunakan tiga tolok ukur kemiskinan internasional yang disesuaikan dengan kelompok pendapatan negara. Tolok ukur tersebut yakni US$3,00 per hari untuk negara berpendapatan rendah, US$4,20 untuk negara berpendapatan menengah bawah, dan US$8,30 untuk negara berpendapatan menengah atas.

Untuk Indonesia yang masuk kelompok negara berpendapatan menengah atas, Bank Dunia menggunakan ambang US$8,30 per orang per hari atau sekitar Rp51.087.

Menurut BPS dan Bank Dunia, perbedaan besar tersebut terutama berkaitan dengan penentuan garis kemiskinan. Ketika tingkat pendapatan Indonesia naik menjadi negara berpendapatan menengah atas pada 2023, Bank Dunia menaikkan ambang batas kemiskinan yang digunakan dari US$4,20 menjadi US$8,30 per orang per hari.

Dengan ambang batas yang lebih tinggi, secara alami lebih banyak orang berada di bawahnya. Namun, hal tersebut tidak berarti mereka menjadi lebih miskin.

Angka US$8,30 juga mencerminkan standar hidup kelompok negara berpendapatan menengah atas yang luas, termasuk negara-negara dengan pendapatan per kapita hingga hampir tiga kali lipat dari Indonesia. Karena itu, angka tersebut menetapkan standar yang lebih tinggi dibandingkan standar hidup yang berlaku di Indonesia.

Kedua ukuran tersebut juga memperlakukan perubahan harga dari waktu ke waktu dengan cara berbeda. BPS menyesuaikan garis kemiskinannya seiring perubahan pola konsumsi dan standar hidup, sedangkan Bank Dunia menerapkan standar internasional yang tetap dan menyesuaikannya dengan inflasi.

Untuk pemantauan kemajuan Indonesia serta perumusan kebijakan ekonomi dan pembangunan nasional, ukuran yang ditetapkan BPS dinilai paling relevan.

Berdasarkan ukuran BPS, tingkat kemiskinan Indonesia turun dari 8,47 persen pada Maret 2025 menjadi 8,07 persen pada Maret 2026.

Sementara untuk gambaran global, estimasi Bank Dunia tahun 2025 menunjukkan 3,7 persen penduduk Indonesia berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem, 15,5 persen berada di bawah garis kemiskinan untuk negara berpendapatan menengah bawah, dan 64,1 persen berada di bawah garis kemiskinan untuk negara berpendapatan menengah atas.

BPS dan Bank Dunia menegaskan kedua ukuran tersebut menggunakan data dasar yang sama, tetapi menjawab pertanyaan yang berbeda. BPS mengukur kemiskinan dalam konteks Indonesia sehingga bermanfaat untuk pemantauan kemajuan dan kebijakan dalam negeri. Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan internasional untuk membandingkan standar hidup antarnegara.

Keduanya dinilai tidak lebih “benar” satu sama lain karena memiliki tujuan berbeda dan memberikan perspektif yang saling melengkapi mengenai upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia. (cyo/sae).

You Might Also Like

Menaker: Data Sensus Ekonomi 2026 Perkuat Penyusunan Kebijakan Ketenagakerjaan
Untuk Efektifitas dan Efisiensi Pemerintah Bubarkan 10 Lembaga Nonstruktural
PN JAKTIM : Sidang Perdana YAPERMA vs Polsek Gringsing & ACC Finance
Polda Metro Jaya Amankan 7 Orang Diduga Pengguna Narkoba di Play A Sure, Apa Hasilnya?
Silaturahmi, Kodim 0503/JB Laksanakan Pengajian Rutin Dan Santunan Yatim
TAGGED:JakartaPernyataan Badan Pusat Statistik Indonesia – Bank Dunia Tentang Garis Kemiskinan
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trend Terkini
KABAR JATIM

Jatim Fest 2026 Digelar, KAI Daop 8 Surabaya Hadirkan Promo Tiket Kereta hingga 30 Persen

Redaksi
By Redaksi
1 Oktober 2026
Sinden Muda Lintang Kairo Mengapresiasi Paguyuban Dalang Cilik Kabupaten Kediri Curi Perhatian Pengunjung CFD di Wates
PT. PRADHA KARYA PERKASA Sampaikan Hak Jawab Melalui Anggota TNI Terkait Pemberitaan Dugaan Limbah di Karangdiyeng
Perkuat Ekosistem Tebu Rakyat, SGN dan ANPER Bangun Infrastruktur Jalan di Bantul
Pemkab Malang Realisasikan Hotmix Pendem Jatisari Pakisaji

Kategori Berita

  • Politik
  • Lawan Korupsi
  • Hukum
  • Kriminal
  • Kabar JATIM
  • Nusantara
  • Opini
Menu Cepat
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik
  • Susunan Redaksi
  • Copyright
  • Disclaimer
SGN Dukung HUT ke-81 TNI, Salurkan 15 Ton Gula untuk Bakti Sosial dan 1,5 Ton untuk Pasar Murah
6 Oktober 2026
Di Hadapan 600 Wisudawan UNWAHA, Zulhas: Berani Itu Menentukan Masa Depan
5 Oktober 2026
Perkuat Ekosistem Tebu Rakyat, SGN dan ANPER Bangun Infrastruktur Jalan di Bantul
3 Oktober 2026
Sidak Sekolah Penerima Revitalisasi, Sekda Jombang Ingatkan Soal Tanggung Jawab
2 Oktober 2026
PENA RAKYAT NEWSPENA RAKYAT NEWS
© Penarakyatnews.id 2026. All Rights Reserved. Developed by Marga
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?