PRN MOJOKERTO – Semula gak percaya. Saya kira hadirnya KPK adalah bagian skenario dagelan kelas elit. Terlebih pada jumpa pers Selasa (24/4) usai magrib.
MKP masih tampak bugar dan pede. Bahwa penggeledahan KPK hanyalah terkait tower tanpa ijin. Hingga hari itu berita diturunkan, semua wartawan masih belum sreg dg keterangan MKP tsb. Hari berganti hari, seakan seluruh elemen masyarakat Mojokerto terfokus dg gerak aktivitas KPK.
Tiap sudut ruangan SKPD yg dicurigai beraroma korupsi digeledah tuntas. Sembari keluar ruangan ada saja jenis dokumen yg dibawa dan diamankan KPK. Tak hanya dokumen, semua barang milik Bupati ikut diamankan. Mulai sepeda motor, mobil mewah, hingga uang tunai satu karung dua dus. Tapi ini sungguh terjadi. Artinya, KPK gak main2. Disinilah ihwal riwayat MKP menemui apesnya. Terakhir hari ini Senin (30/4)
MKP resmi ditahan dg menggunakan rompi orange khas tahanan KPK. Dan suara riuh gelegar tanda kemenangan aktivis anti korupsi terdengar sampai ke pelosok desa. Ada yg menyambut rasa syukur tsb lewat tumpengan. Ada yg sekedar makan makan biasa. Ada pula yg full happy melekan sampai pagi. Euphoria aktivis anti korupsi ini mengingatkan saya tatkala Orba lengser keprabon 1998. Tanpa ada komando mahasiswa kala itu langsung menceburkan dirinya di kolam halaman DPR MPR RI.
Semua dilakukan sbg spontanitas rasa bersyukur yg mendalam atas perjuangan dan terkabulnya doa. Bahwa rezim sakti yg adi kuat pun bisa jebol karena people power. Persis ungkapan para pecinta demokrasi berikut: Bahwa seribu tentara tak akan sanggup membendung datangnya sebuah ide yg tiba saatnya untuk menyatakan diri.
“WIS WAYAHE”. Kata orang jawa.
Termasuk nasib MKP. Satu periode jabatan Bupati sudah dilalui. Disambung lagi periode kali kedua. Merasa kokoh kuat jaringan yg dibangun. Wartawan dan LSM kerap dijadikan obyek guyonan. Apa itu kontrol sosial tak digubris. Semua dianggap angin lalu. Pun unjuk rasa bertema anti korupsi justru dicibir pekerjaan orang nganggur.
Semangat upaya pemberantasan korupsi seakan berubah menjadi cemoohan bulan bulanan bagi para penggiat anti korupsi. Termasuk saya sendiri. Pernah dijuluki komedi bedes. Karena orasi tanpa didukung jumlah memadai peserta demo. Bahkan ada slentingan KOYOK WONG EDAN. NDLEMING DEWE. Begitu kata suara sumbang menggelitik kuping. Tapi ternyata semua itu membawa hasil.
Tak sia sia. Kawan2 aktivis anti korupsi pasti tahu dan ikut merasakan perjalanan pahit getir ini. Nama nama GEBRAK, GASAK, GARANG, GERAM, ARAK, DLL masih segar dalam ingatan kita. (Tiwi aktivis anti koripsi).
Diunggah dari wa kiriman Machroji M 1/5/18

