close
HUKUM

Disinyalir Adanya Rekayasa Lelang, BTPN, KPKNL, BPN dan Pemenang Lelang ‘Digugat’

Foto penggalan video Ahmad Choliq Efendi saat dikomfirmasi dikediamannya, tampak tidak menghargai keluarga Suwarno

PRN MOJOKERTO – Merasa terdapat banyak kejanggalan dalam proses dan mekanisme lelang yang dilakukan oleh BTPN Cabang Mojokerto dan KPKNL (Kantor Pelayanan Kekayaan Negara Dan Lelang) Sidoarjo diduga penuh rekayasa, pemilik tanah dan rumah yang merasa dirugikan menggugat secara perdata di Pengadilan Negeri Mojokerto.

Adalah Suwarno (46) warga Talok Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto selaku pemilik Sertifikat Hak Milik (SHM) dengan luas 351 m2 yang berniat membantu Saroji warga Jombang untuk modal kerja, telah dijaminkan kepada BTPN cabang Mojokerto, dan Saroji setelah menerima uang tidak tanggung jawab membayar angsuran malah pergi ke luar jawa.

Melihat hal itu Suwarno selaku pemilik sertifikat sudah berupaya dengan berbagai cara termasuk berniat hendak menebus sertifikat di BTPN cabang Mojokerto dengan nilai 100 juta, namun oleh pihak bank tidak dikabulkan permohonannya, dan lebih mengagetkan Suwarno justru rumah miliknya dilelang oleh BTPN cabang Mojokerto melalui KPKNL Sidoarjo dengan nilai 100 juta kepada pihak lain.

Menurut Nurul Aini istri dari Suwarno, tidak menginginkan rumahnya dikuasai orang lain dengan harga 100 juta, Nurul Aini memohon kepada Ahmad Choliq Efendi selaku pemenang lelang dengan maksud menebus kembali rumah miliknya dengan nilai tebusan mencapai 150 juta, namun  Ahmad Choliq Efendi yang juga menjabat sebagai kepala desa Sonorejo Kabupaten Kediri ini enggan memberikan.

Pernyataan ini dibenarkan oleh  Ahmad Choliq Efendi saat ditemui dikediamannya, dalam wawancaranya dengan Nurul Aini, Suwarno dan awak media saat dikediaman Ahmad Choliq Efendi, alas an mendasar bahwa dirinya tidak menerima tebusan mencapai 150 juta adalah karena merasa sudah kesepakatan memberikan vie kepada broker 20% dan juga memberi vie kepada oknum KPKNL serta syarat administrasi lainnya. (Bukti rekaman vidio)

“saya sudah sepakat memberikan 20% kepada orang Jombang dan lain-lainnya, jadi kalau ditebus 200 juta mungkin kami pertimbangkan tapi yang 2 unit rumah juga harus ditebus sekalian” ungkap Ahmad Choliq Efendi.

Mendengarkan jawaban Ahmad Choliq Efendi bahwa harus menebus 3 rumah sekaligus, padahal yang 2 rumah itu dalam proses lelang lain, keluarga Suwarno menganggap semua ini permainan, disimpulkan oleh keluarga Suwarno bahwa proses lelang rumahnya ini penuh rekayasa, maka dirinya mengajukan gugatan perdata ke PN Mojokerto dengan nomor 40/PDT.G/2019/PN.Mjk dan akan membongkar dugaan pemberian vie sukses yang dilakukan oleh oknum bank dan KPKNL atas proses mekanisme lelang. (Penulis Fauzi)

Tags : MojokertoRekayasa Lelang

Leave a Response

*