close
HUKUM

Pernyataan Saksi dan Pembacaan Duplik Advokat dari Polda Banten Simpang Siur, Tapi Polda Banten Tetap ‘Menang’

PRN BANTEN | Perjuangan untuk mencari keadilan yang dilakukan oleh seorang istri dan ibu rumah tangga untuk membela hak hukum atas suaminya yang ditahan di Krimsus Polda Banten terus tak kenal lelah.

Adalah Hayati Nufus (38) seorang istri dan ibu rumah tangga menapaki ujian yang berat karena telah memperjuangkan hak hukum atas Abdul Rohman yang ditangkap dan ditahan oleh Krimsus Polda Banten sejak 17 Maret 2020 yang diduga tidak melalui prosedur atau SOP penangkapan yang benar.

Kepada awak media Pena Rakyat News Hayati Nufus seusai mendaftarakan gugatan perdata melawan Polda Banten menuturkan peristiwa yang menimpa kepada diri dan suaminya yang telah ditangkap pada 17 Maret 2020 sekitar pukul 15.30 oleh jajaran Krimsus Polda Banten tanpa membawa sehelai surat perintah penangkapan.

Saat pembacaan duplik dalam sidang Pra Peradilan yang dibacakan oleh Kuasa Hukum Polda Banten terdengar jelas disebutkan bahwa hanya klarifikasi bukan penangkapan, dan yang lebih menarik lagi pada saat sidang saksi, saksi Arif dari Polda Banten menyampaikan kesaksian bahwa pada tanggal 17 maret 2020 dirinya dan rekannya menunjukkan surat penangkapan.

“Ini yang menjadi tergerak bagi saya semua pada tidak benar wong jelas suami saya ditangkap tanggal 17 maret 2020 dan keesokan harinya baru muncul surat penangkapan tertanggal 18 maret 2020” ungkap Hayati Nufus.

Masih dalam keterangan Hayati Nufus, suaminya (Abdul Rohman, red) ditangkap dirumahnya bahkan didepan istri serta anaknya yang berusia 4 tahun, bahkan anaknya menjerit melihat Abdul Rohman diseret dimasukkan ke dalam mobil tanpa menunjukkan apa-apa dan ditahan sampai sekarang yang sudah 30 hari, apakah ini yang disebut klarifikasi ? Tanya Hayati Nufus.

Tidak puas menggugat Pra Peradilan terhadap Polda Banten, saat ini Hayati Nufus juga mendaftarkan gugatan PMH tyerhadap Polda Banten dan diterima dengan nomor perkara 53/Pdt.G/2020/PN.Srg.

Sebagai keterangan pamungkas, Hayati Nufus juga berencana akan menghadap Kapolri untuk melaporkan dugaan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan jajaran Krimsus Polda Banten, pasalnya Hayati Nufus merasa kalau kasus ini penuh dengan sandiwara dan rekayasa, hal ini seperti yang kita lihat bahwa pelaku take over yaitu Apriani sama sekali tidak diproses apalagi ditahan (pasal 36 UU Fidusia bahwa debitur adalah pelaku pengalihankendaraan yang masih kredit), sedangkan Abdul Rohman adalah saksi kok malah ditahan, lagian masalah ini juga masalah hutang piutang. pungkas Hayati Nufus. (Ujang)

Tags : BantenPermainan Hukum

Leave a Response

*