close
OPINI

REFLEKSI IDUL ADHA 1441 H DI MUSIM PANDEMI MENGUNGKAP KEMBALI SENGKETA KEPENTINGAN IBLIS DENGAN MANUSIA

Oleh;
Ahmad Syafii, M.Pd.I.
(Dewan Redaksi Pena Rakyat News dan Pengurus Biro Bantuan Hukum Yuris Surabaya)

Sejarah sengketa telah ada sejak manusia pertama diciptakan. Rekonstruksi persengkataan secara historis dapat dilihat diberbagai catatan para ahli sejarahwan bahkan tergambar dalam kitab suci al-Quran, sehingga sampai dengan sekarangpun bentuk-bentuk lain persengketaan selalu ada. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi terdapat peran iblis sebagai sama-sama makhluk Tuhan yang tersebar diberbagai belahan dunia.

Iblis telah bersumpah kepada Tuhannya dalam menggelincirkan manusia agar berpaling dari visi misi yang telah disepakati dan dipedomani sendiri. Maka kemudian wajar jika banyak manusia yang lupa jati dirinya sementara manusia telah berkomitmen kepada Tuhannya untuk berpihak kepada kebenaran ketika lahir membumi.

Ada dua contoh rekonstruksi yang menggambarkan sebuah komitmen namun berbeda visi dan misi Kepada Allah Swt. Satu contoh peristiwa komitmen berasal dari iblis dan satu contoh peristiwa komitmen berasal dari manusia. Namun sepertinya iblis yang meraih kemenagan dalam konteks memegang komitmen yang dibuat dan disepakati, sementara manusia dominasi mengalami kekalahan.

Contoh pertama; Komitmen iblis Kepada Allah Swt. yang diabadikan dalam al-Quran:
Karena Engakau telah menghukumku (iblis) dengan tersesat pasti aku akan mengahalangi mereka (Adam dan anak cucunya) dari jalan-Mu yang lurus (QS. al-Araf : 16).

kemudian pasti aku (iblis) akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri mereka. Dan Engkau tidak mendapati kebanyakan mereka bersyukur (QS. al-Araf : 17).

Komitmen iblis tersebut jelas, targetnya adalah manusia, sementara Allah Swt. pun menginformasikan kepada manusia namun justru manusia sendiri yang kurang mempercayai-Nya. Banyak peristiwa-peristiwa didalamnya terdapat peran iblis tetapi justru manusia itu sendiri yang mengambil alih peran iblis tersebut. Manusia sering menipu sesama manusia hingga terjadi proses hukum terhadap sesama manusia, manusia sering menjegal sesama manusia hingga menjadi pelanggaran terhadap hak manusia lain, manusia sering melibas sesama manusia, hingga terjadi perbuatan yang tidak manusiawi.

Tesebut adalah bentuk-bentuk faktual bahwa manusia menduduki kedudukan iblis, maka siapa yang nakal manusia apa iblis. Iblis sekalipun takkan melakukan kepada sesama iblis selain hanya menghembuskan profokasi terhadap manusia, sementara Allah Swt. telah memberikan informasi melalui para Nabi dan Rasul-Nya bahwa iblis melakukan perbuatan itu namun justru manusialah yang mengambil peran iblis untuk melakukan kenistaan.

Maka 1-0, iblis versus manusia, karena iblis memegang komitmen dengan menggelincirkan manusia sementara manusia tidak ada perjanjian dibolehkannya mengambil peran iblis tetapi malah memerankannya. Jika hitungan poin sistem kompetisi justru manusia kalah telak tanpa poin atau diskualifikasi karena mengambil peran iblis.

Contoh kedua; Komitmen manusia kepada Allah Swt. seperti tertuang dalam al-Quran yang artinya sebagai berikut; Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari shulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman) Bukankah Aku ini Tuhanmu, mereka menjawab, Benar (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi, (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya ketiku itu kami lengah terhadap ini (QS. al-Araf : 172).

Tersebut amat jelas menunjukkan bahwa manusia berjanji kepada Allah Swt sebelum lahir dibumi. Artinya manusia memiliki janji menjalankan norma-norma kemanusiaan yang jika dipedomani dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata tidak akan terjadi ketimpangan. Namun lagi-lagi manusia sendiri justru mengingkari komitmennya.

Banyak jenis pengingkaran manusia untuk tujuan yang tidak jelas, dengan pola dan strategi yang beraneka ragam, seperti strategi menggunting dalam lipatan, pola gemar bermain minyak di atas air, trik menjegal dari belakang. Pola, strategi, dan intrik tersebut tidak dilakukan oleh iblis tetapi justru manusia yang melakukan pelanggaran atas komitnnya kepada Allah Swt, iblispun tidak serta merta marah justru dijadikan temannya hebatkan.

Manusia kini kalah 1-0 kosong lagi dengan iblis dalam hal komitmen. Maka pertanyaannya adalah dimana digadaikan visi dan misi manusia selama ini kok selalu kalah dengan iblis. Kalau hanya persoalan perut kan sudah dijamin oleh Tuhan tidak akan kelaparan, kalau hanya perempuan atau sebaliknya kan sudah dijamin oleh Tuhan bahwa manusia diciptakan dengan berpasangan, kalau hanya derajat kedudukan kan sudah dijamin oleh Tuhan kalau manusia itu derajatnya tinggi, kalau yang dipersoalkan kenikmatan kan sudah dijamin oleh-Nya kalau nikmat itu dicurahkan seirama dengan bersyukur. Iblis tidak pernah menjegal, menikam dari belakang, serta merugikan sesama iblis. Manusialah yang menjadi prakarsa keangkuhan, kesombongan, kerakusan, dan ketamakan.

Belajar kekalahan tersebut selayaknya manusia kembali kepada visi dan misi dimana pertama kali dilahirkan di bumi agar memperoleh kemenangan sebagaimana kemengan Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS terhadap iblis dengan memegang komitmen menanggalkan ego sehingga lepas dari nafsu serakah, rakus, sombong, tamak, dan loba. Mengedepankan sikap tenggang rasa, tepo seliro, unggah ungguh, andap asor terhadap sesama.

Peristiwa IDUL ADHA 1441 H. dimasa Covid-19 ini menjadi keniscayaan bagi manusia yang telah dicipta oleh Allah Swt. sebagai makhluk khairu ummah terbaik, sudah sepantasnyalah mengambil contoh peristiwa yang dilakoni oleh Nabi Ibrahim AS beserta putrnya Nabi Ismail AS, menanggalkan egosentris melaksanakan perintah-Nya meskipun harus memgurbankan harta benda, jiwa dan raga, serta hak hidup yang melekat pada diri. Namun ketugahan yang mantab dapat melepaskan lekatan rasa memiliki. Ketika itu digantikannyalah kerelaan keduanya dengan anugerah yang lebih besar.

Dapat dipetik kesimpulan bahwa menanggalkan ego, hegemoni, nafsu menjajah hak manusia lain, merupakan upaya penyelamatan diri dari bencana, sebagaimana telah diingatkan oleh Allah Swt. dalam al-Quran: “Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka berbuat kedzaliman di bumi tanpa (alasan) yang benar. Wahai manusia. Sesungguhnya kedzalimanmu bahayanya akan menimpa dirimu sendiri, itu hanya kenikmatan hidup duniawi, selanjutnya kepada Kamilah kembalimu, kelak akan Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (QS. Yunus : 23).

Penutup dari tulisan ini sebagaiman kata Ahmed Kembangjoyo dalam akun facebooknya bahwa Kebaikan dan keburukan tidak mungkin dapat bertemu dalam satu pikiran karena manusia dan iblis visi misinya telah berbeda, namun ada satu ungakapan yang bersangkuatan juga, mungkin satu harapan bagi manusia untuk kembali kepada fitrahnya, dikatakan bahwa Meskipun terdapat perbedaan masa namun semangat Nabi Ibrahim AS tetap mengalir dalam diri walau suasana berbeda dari tahun sebelumnya. Karena hati kami tak mengenal jarak dengan keikhlasan. Tersebut merupakan motto harapan baru untuk memenangkan sengketa kepentingan dengan iblis di dunia melalui keikhlasan dimana konsep ikhlas akan dapat melepaskan pengaruh iblis (egosentris) pangkal dari segala kerusakan.

Tags : Refleksi Idul AdhaSurabaya

Leave a Response

*