Oleh;
Ahmad Syafii, M.Pd.I.
(Dewan Redaksi Pena Rakyat News)
Satu babak peristiwa dalam lakon Petruk Dadi Ratu di dunia pewayangan sebagai sebuah warning tentang peran seorang pemimpin dalam setiap lini struktur kehidupan di jagad raya. Dengan peristiwa seorang tokoh dalam cerita wayang si Petruk sebagai simbul kawulo alit dengan status sosial paling rendah sebagai pesuruh, atau seorang tokoh wayang mewakili figur rakyat jelata yang tidak ada kepantasan menjadi seorang panutan apalagi dijadikan pemimpin dapat berakibat kepada ketidak selarasan dalam kebijakan.
Hal tersebut pernah dilakoni oleh Petruk yang notabene seorang kawulo alit rendahan tiba-tiba jadi Raja bergelar Prabu Tong Tong Sot Wel Geduwelbeh alias Petruk Kantong Bolong, weleh weleh weleh (seloroh Bagong). Kang Gareng yang berposisi lebih tua menyahuti seloroh si Bagong; Tetapi Petruk kesaktiannya melebihi para Dewa dan para Penguasa di Mayapada lho Gong, kata Gareng kepada Bagong adiknya. Romo Semar sedianya tidak mau ikut-ikutan dialog ngalor ngidul dengan anak-anaknya tersebut, namun dirasa ada kalimat Gareng yang dapat mendiskreditkan orang maka terusiklah perhatian Ki Lurah Semar Bodronoyo.
Ki Semar pun akhirnya memotong dialog dan menjelaskan alur cerita yang sebenarnya dan berucap dengan bahasa Jawa; ooohh toleee tole, mbegegeg ugeg ugeg hmel hmel sak ndulito, toleee. Coba waspadakno lan rasakno miline banyu sak jeroning akal lan rosomu mengko bakal ketemu yen iline banyu kuwi urut-urutane soko nduwur mandeg ono ngisor. Tegese ora ono banyu kuwi mili soko ngisor tumuju awang-awang kejobo ono sebab. Contone mendung kuwi soko ngisor rupo uwap sebab ono panas cahyoning suryo, banjur ngumpul dadi mendung digowo angin, nanging bakal bali menyang ngisor maneh rupo udan, toleee. Dadi kabeh ngono bakal balek menyang asale. Petruk madek dadi ratu kuwi ceritane koyo ngene, Semarpun melanjutkan cerita Petruk madek dadi ratu.
Pada saat Petruk mendapat wahyu keprabon seketika itu juga dia memiliki kesaktian yang tanpa tanding. Maka setelah dapat mengalahkan para raja termasuk Nerpati Basukarno manggolo yudho (panglima perang) para kurawapun bertekuk lutut. Giliran berikutnya para pandawapun demikian dikalahkan juga dan menjadi anak buah Petruk Kantong Bolong yang sebelumnya jadi ndoronya (tuannya). Karena Wilayah kekuasaan Lojitengoro sudah dikuasai dan menjadi raja degdoyo mondroguno. Gelar Prabu Tong Tong Sot Wel Geduwelbeh pun menjadi nama kebesarannya.
Sebelumnya pada bagian I telah diceritakan keberhasilan Petruk menaklukkan para raja dan berhasil merebut tahta Pulasara di Astina Pura serta golek kencono yang bisa diajak dialog. Dengan Jamus Kalimosodo dalam kekuasaan Petruk maka seluruh wilayah menjadi negara taklukan negara Lojitengoro dengan prabu Tong Tong Sot Wel Geduwelbeh alias Petruk Kantong Bolong tersebut sebagai rajanya. Petruk yang sebelumnya berkepribadian kritis dan realistis namun tetap santun dan andap asorpun berubah menjadi pribadi yang adigang adigung adiguno, jadi bukan hanya penampilan, tetapi kepribadiannya juga terpengaruh seiring meningkatnya kesaktian si Petruk dengan tiba-tiba.
Situasi sudah tidak terkendali dan bahkan bertentangan dengan tatanan hukum alam (Sunnatullah), maka para Dewa di Kahyangan Jonggringsaloko pada murka dan turun ke Mayapada untuk menghentikan ulah Petruk alias Prabu Tong Tong Sot Wel Geduwelbeh. Namun para Dewa tidak berdaya menghadapi Prabu Tong Tong Sot. Kahyangan Junggringsalokopun akhirnya diacak-acak oleh Prabu Tong Tong Sot. Sudah barang tentu akhirnya sang Prabu lebih menggila kelakuannya. Semua angger-angger diubah, yang semula dilarang menjadi diperbolehkan seperti maling, berjudi, minum-minuman keras, madon (main perempuan) dan lain sebagainya diubah diperbolehkan. Semua para raja dan para Dewa sudah takluk bertekuk lutut. Ketika mereka para raja dan dewa dikumpulkan dihadapan prabu Wel Geduwelbeh didamprat habis-habisan karena prilaku para pimpinan yang sewenang wenang dan doyan korupsi suka merampas hak orang lain namun dibungkus dengan rapi seolah-olah sudah menjadi kode etik para pemilik kekuasaan para wayang. Kemarahan prabu Wel Geduwelbeh tak habis-habisnya dan menelanjangi aib para raja, sehingga semuanya dibongkar. Sebab prabu Tong Tong Sot sangat hafal kelakuhan para raja, mengingat dia adalah Petruk yang hidup dari generasi ke generasi sejak sang Hyang Wisnu ngejowantah sampai dengan saat ini murka.
Begitu situasi sudah tak dapat dikendalikan, maka Sri Krisna raja yang ditaklukan Prabu tong Tong Sot dari Dwarawati sekaligus penasehat pandawa pergi menuju padepokan Karangkedempel tempat Begawan Ismoyo alias Ki Semar romonya Petruk tinggal. Kebetulan Semar bersama kedua anaknya yakni Gareng dan Bagong sedang kumpul bercengkrama. Maka tanpa basa basi pada saat itu juga Sri Kresna meminta kepada Semar untuk menyelesaikan pergolakan yang tidak wajar tersebut akibat ulah Prabu Tong Tong Sot yang tiba-tiba mencuat viaral dimedsos dunia wayang dengan kerajaan Lojitengoro.
Dalam dunia wayang, sudah menjadi ciri wanci manakala ada huru hara punakawanlah yang akhirnya tampil mengambil resiko untuk menyelesaikan. Termasuk ketika terdapat tanda-tanda alam sudah tidak bersahabat karena ulah para ndoro alias para penguasa yang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena merugikan kebanyakan masyarakat pewayangan. Biasanya para punakawan tampil membuat gempar atau ontran-ontran. Tujuannya adalah mengingatkan para pemangku jabatan supaya kembali kepada tatanan, kode etik, atau angger-angger pewayangan yang telah diabaikan.

