close
KABAR JATIM

AGAR TERJUAL MAHAL & BERKUALITAS, PETANI LOKAL HARUS MENGIKUTI SOP PEMBUATAN GARAMNYA .

Hasil dan proses pembuatan garam sesuai SOP PT. Garam Persero

PRN SUMENEP | Hampir sebagian besar kualitas garam petani lokal tidak memenuhi permintaan standar kebutuhan bahan industri, sehingga banyak pelaku usaha lebih memilih garam impor yang berstandar sesuai kebutuhannya, karena dari itu garam petani lokal tidak bisa terserap dan anjloknya harga garam milik para petani lokal menurun. Senin 15/09/2020.

Sedangkan di pulau Madura Jawa Timur, khususnya di kabupaten Sumenep bisa menghasilkan produksi garam yang berkualitas seperti standar kebutuhan bahan industri, dibuktikan di lahan tambak garam Gersik Putih Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep, yang dikelolah langsung oleh pihak PT. Garam Persero Kalianget dengan metode proses pengolahan garam mengacu pada Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan garam yang ada di PT. Garam.

Dari hasil investigasi, Imam Hanafi selaku Kepala Pegaraman Gersik Putih PT.Garam Persero saat di datangi awak media menunjukkan sampel hasil produksi garam yang berkualitas berbentuk kristal padat dan butiran butiran garam besar besar sesuai standard yang dibutuhkan para pelaku usaha.

Dia memaparkan bahwa, jika Petani garam lokal menggunakan metode metode sesuai SOP dan prosesnya mengikuti seperti PT. Garam, maka akan menghasilkan garam yang berkualitas sesuai kebutuhan standard bahan industri. Sehingga Pemerintah akan mempertimbangkan untuk melakukan Impor garam dari luar dan garam petani lokal akan terjual dengan harga mahal.

“Petani garam lokal harus segera merubah kebiasaan yang jarang membuang air 29Baume (Be) di petak, dengan menggunakan metode baru sesuai SOP agar menghasilkan garam yang berkualitas sesuai standard kebutuhan industri, maka tidak hanya kualitas yang kita dapat termasuk produktivitasnya kita dapatkan”. Ucap Imam H, asal warga Pinggir Papas. Senin 14/09/2020.

Dia menjelaskan metode proses dari air laut menjadi garam berkualitas dalam proses dinamakan manajemen air dengan cara sistem ulir, ada 12 petak yaitu petak 1 sampai petak 12, jadi proses awal air laut dituangkan ke petak no.12 digeser ke petak 11 terus ke petak 10-9-8 sampai ke petak 1 hingga menjadi air 25Be.

“Air garam murni yang melalui proses menjadi air 25Be artinya air tersebut sudah dilepas kepada petak pengkritalisasian atau petak pengganti pungutan, maka air itu tidak boleh pungut di atas air 29Be dan ketebalan air minimal kisaran 5 cm sampai 7 cm, sehingga masa periodisasi pungutnya itu lebih panjang dan berdampak terhadap butiran dan visual, Jadi kalau selama masih 3 cm, 4 cm dan massa pungutnya itu 9 hari sampai 10 hari, akan terjadi nanti di posisi hari ke-5 kandungan Natrium klorida (NaCl) sudah tidak ada dalam air tersebut, sehingga air 29Be itu dipaksa untuk jatuh dan menjadi bagian garam itu sendiri”. Papar Imam H.

Dia melanjutkan ketika di lab, maka kecenderungan NaCl nya rendah dan garam itu relatif lebih tidak keras/keropos dan produktivitasnya rendah, karena garam tersebut sama dengan air, jadi artinya garam itu semakin banyak air yang di lepas air tua (LAT), maka hasil garamnya akan seiring semakin banyak juga.

Cenderung garam terasa pahit rasanya karena kesalahan di dalam prosesnya air 29Be tidak dibuang, pada waktu dia LAT yang seharusnya garam sudah dipanen tidak dipanen masih menunggu 2 sampai hari, sehingga dengan sisa air 29Be itu dia dipaksa untuk menguapkan jatuh garamnya itu rasanya pahit karena ada kontaminasi magnesium yang mengkristal.

Alat pengukur kandungan garam di dalam air disebut Hydrometer, alat itu di gunakan untuk mengukur salinitas air dari laut yang masih 18Be, biarin sampai terjadi penguapan artinya Penguapan yang di uapkan itu adalah air tawar yang ada di dalam air tersebut, dengan proses sekitar kurang lebih 25 sampai 30 hari hingga menghasilkan air 25Be. Setelah itu air tersebut dipindahkan meja kristalisasi yang menggunakan geomembran untuk di jadikan garam.

Ada 2 tahapan dalam proses pembuatan garam dari air laut menjadi garam:
1. Pengolahan Air.
2. Pengolahan tanah, yang kita kenal dengan pemadatan tanah yang tujuannya untuk mempercepat penguapan. Sehingga meja tanah dilakukan pemadatan tanah agar kotoran tanah tidak ikut waktu di ‘LAT’ (lepas air tua) yang sekarang sudah menggunakan geomembran agar lebih berkualitas.

Kecenderungan secara umum petani garam lokal itu dalam melakukan proses pembuatan garam tergesa-gesa untuk panen pertama di awal musim kemarau, sehingga hasil kualitas garam yang didapat oleh petani garam lokal tidak sesuai standar kebutuhan industri. Karena tidak sabar menunggu proses air laut untuk mencapai 25Be. (erfandi)

Tags : Hasil MaksimalSumenep

Leave a Response

*