close
HUKUM

‘Lagu Lama’ Muluskan Galian C dengan Dalil Wisata Lahar Kaligedok

PRN KEDIRI | Sudah menjadi alasan yang klasik pengusaha galian C yang notabennya tidak memiliki kelengkapan perijinan untuk menarik simpati dan respon baik kepada pemilik lahan atau warga sekitar, selalu menggunakan paparan program yang menggiurkan seperti halnya akan rencana dibangun wisata pancing, wisata kolam renang dan lain-lain.

Kali ini berdasarkan pengaduan dari masyarakat Margourip dusun Kaligedok Ngancar Kediri mengundang tim media Pena Rakyat News untuk melihat langsung lokasi penambangan pasir atau Galian C yang terkesan aman terkendali walaupun sebagian besar warga merasa sangat keberatan dengan keberadaan  tambang tersebut karena takut akan dampak perusakan lingkungan yang luar biasa di kemudian hari.

FR (inisial, red) warga Kaligedok salah satunya yang sangat prihatin dengan kondisi daerahnya, pasalnya tanah sawah subur didesanya banyak di rusak para penambang pasir dan batu terus ditinggalkan setelah mendapat masalah hukum atau pasirnya sudah habis, sedangkan warga desa hanya ditinggalkan kerusakan alam dan resiko tinggi apabila terjadi bencana. Lebih parahnya lagi menurut FR Kepala Desa Margourip terkesan mendukung rencana angin surga yang diberikan oleh pengusaha galian C ini.

“saya mewakili warga tidak akan terima kalau kampong kami dibuat rusak seperti ini, kami akan mengambil upaya apapun untuk menjaga kampong kami” tegas FR saat makan siang di sate Pak Slamet Patok. 8/2/21.

Menanggapi hal ini Pena Rakyat News melihat langsung ke lokasi dan bertemu dengan Jayak yang mengaku sebagai penanggungjawab galian C di dusun Kaligedok desa Margourip.

Dalam keterangannya pria yang mengaku berprofesi Pengacara saat di Jakarta ini (Jayak, red) memaparkan program kerja jangka panjang yang akan dilakukan di dusun Kaligedok.

Jayak menyampaikan alasan yang klasik dan sudah sering dilakukan oleh para pengusaha galian yang tidak memiliki kelengkapan legalitas perijinan yaitu menunjukkan program pekerjaan besar seperti halnya yang disampaikan Jayak yaitu akan dibangun tempat wisata rumah makan apung. Program besar ini menurut Jayak juga sudah mendapatkan banyak dukungan dari pihak dari oknum Polsek, Polres bahkan dari Intel dari Polda karena mereka kawan semua. Terkait pertanyaan ijin mendirikan tempat wisata menurutnya dalam proses perijinan.

Sementara terkait lahan dan jenis kegiatan yang dilakukan Jayak bersama dengan Pendik alias Kucing, Kepala desa Margourip Suroso berkomentar bahwa luas lahan yang di Gali oleh Jayak seluas 2,5 hektar, lahan ini juga termasuk lahan milik Suroso dan 4 warga yang tak lain adalah masih keluarga Kepala Desa.  Dalam keterangannya Suroso juga menegaskan bahwa lahan yang utara sungai jangan sampai pasir dan batunya dikeluarkan.

“Dalam draf perjanjian dengan pihak PT lahan kami di gunakan selama 20-30 tahun dengan mekanisme bagi hasil nantinya, saya tidak mengijinkan lahan kami utara sungai untuk dirubah bentuk atau digali sebab dalam lay out gambar tidak akan merubah bentuk” penggalan kata Suroso yang terekam awak media. 10/2/21.

Namun fakta berkata lain dari pantauan awak media setiap hari ratusan truk pengangkut pasir hilir mudik masuk dan keluar mengambil pasir dari Galian Jayak lahan milik Suroso utara sungai  melalui jalan dusun Selorejo desa Sidorejo Ponggok Blitar. Pertanyaan mendasar beberapa hari yang lalu galian milik Prawito sudah di exsekusi oleh penegak hukum wilayah Kediri, mengapa galian besar milik Jayak aman terkendali ?. (Gunari/Dedi)

Tags : Galian BodongKediri

Leave a Response

Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2021