24.8 C
Mojokerto
BerandaKABAR JATIMACH. Dzaky. GF : "Meskipun Terjadi Dualisme Kepengurusan,  Kerukunan Antar Jamaah dalam...

ACH. Dzaky. GF : “Meskipun Terjadi Dualisme Kepengurusan,  Kerukunan Antar Jamaah dalam Beribadah Harus Tetap Terjaga”

PRN KEDIRI | Kesepakatan bersama antara H Nur Yahya dan M. Abid Musyaffa yang berada di Plosorejo Kunjang Kab. Kediri sepertinya ditunggangi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab yang diduga memprovokasi warga sekitar untuk tidak beribadah bersama-sama, serta menimbulkan perpecahan antar jemaah.

Ketidak sepahaman memang sempat terjadi antara kedua belah pihak antara H Nur Yahya selaku Takmir dan Abid yang masih merupakan Cucu dari Hasyim Nawawi pemilik tanah yang di wakafkan untuk tempat ibadah.(10/4/2021)

Saat ditemui di Masjid Al Ma’ruf di Plosorejo, Kunjang Kab. Kediri awak media menemui Abid Rabu 07/04/2021 di Masjid Al Ma’ruf untuk menanyakan awal mula timbulnya perpecahan antara pengurus dan jemaah yang berada di sekitar Masjid Al Ma’ruf.

Abid menjelaskan “mungkin berawal dari kepengurusan yang kurang transparan pengelolaan infaq atau keuangan masjid sebenarnya mas, saya memang sempat berucap jangan mau uangnya tapi tidak mau kegiatannya, dalam laporan  juga hanya keluar masuk tanpa ada rincian, mungkin disitu saya sebagai pihak dzurriyah dianggap meminta hak kembali, sehingga mungkin ada ketersinggungan disitu, padahal sedikitpun saya tidak ada niat meminta apa yang sudah di wakafkan oleh kakek saya, hanya agar semua berjalan sesuai ukhuwah Islamiyah” Jelasnya kepada awak media.

Lanjut Abid “pada tanggal 11/11/2020 sempat diadakan rapat Kesepakatan bersama Pengurus MWC NU Kec. Kunjang, yang di hadiri oleh MUI Kec. Kunjang, Kades Kunjang, Kasun Plosorejo, dan wakil masyarakat kedua belah pihak yang menyepakati beberapa hal salah satunya antara saya dan H Nur Yahya tidak dilibatkan dalam ketakmiran masjid, tetapi bersama-sama menciptakan ukhuwah Islamiyah khususnya di Dsn. Plosorejo Kunjang Kediri” Bebernya.

Masih menurut keterangan Abid “Akan tetapi diduga ada oknum yang menghasut warga untuk tidak berjamaah di Masjid Al Ma’ruf dan mengajak untuk berjamaah Shalat Jum’at di Mushola Al Hidayah, dan menurut keterangan pihak perangkat desa mengatakan pengurus Mushola Al Hidayah sempat datang ingin merubah dari Mushola menjadi Masjid, akan tetapi menurut keterangan tidak bisa, dan hanya di Maps Google berubah menjadi Tempat Ibadah” Ungkap Abid kepada awak media.

“Hal ini kalau sampai di biarkan akan berbahaya, apalagi sampai istri dari pengurus Masjid Al Ma’ruf juga ikut di diamkan. Sebenernya sudah sering kali di panggil kedesa, bertempat di pendopo balai dusun, bahkan dari cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LPMNU) sudah menjelaskan semua kronologinya bahkan juga ke ilmu ilmuannya tentang syariat Islam, tujuannya baik untuk menyatukan dari semua warga Plosorejo menjadi satu lagi seperti dulu, jangan terpecah-pecah ucap salah satu pengurus Masjid Al Ma’ruf Zainudin yang kebetulan ada saat awak media melakukan wawancara.

Takmir Masjid Al Ma’ruf juga ikut menambahkan, “saya di sini di pilih sebagai Takmir melalui musyawarah Desa dan pada waktu itu juga ada perwakilan dari Polres Kediri ikut menjadi saksi, tolong kami mohon kepada warga masyarakat Dsn Plosorejo Ds. Kunjang agar jangan terprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, yang mungkin Hanya mementingkan dirinya sendiri, supaya menjadi yang terdepan, saya ingin ayo mulai lagi seperti dulu kita bersama sama berjamaah di Masjid Al Ma’ruf, apalagi ini Menjelang bulan suci Ramadhan, alangkah baiknya kita bersilaturahmi dan membangun Dusun di jalan Islam.

Ditempat yang berbeda awak media menemui Achmad Zaki pemilik dan pengasuh Ponpes At – Tahdzib Ngoro Jombang atau yang sering disapa Gus Mad saat dimintai pendapat terkait masalah ini mengatakan “Konflik sosial yang terjadi di Masjid disebabkan karena merenggangnya hubungan sosial masyarakat, perbedaan kepentingan, pendapat, dan ekspresi dalam ibadah ataupun peribadatan, seyogyanya dalam pelaksanaan ibadah dilakukan secara sederhana, memanfaatkan keberadaan tempat ibadah sebaik-baiknya, penyediaan tempat ibadah netral pada setiap pelaksanaan hari besar keagamaan islam. Sedangkan solusi hubungan sosial antar individu dan antar kelompok masyarakat yang merenggang saling menyadari kesalahan satu sama lain tidak mengutamakan kepentingan pribadi maupun kelompok, meningkatkan kembali solidaritas masyarakat, menghilangkan kecurigaan jelek terhadap kelompok lainnya” Pungkasnya kepada awak media. (Prass)

- Advertisement -
“fashion”

Sedang Hangat

Berita Menarik Lainnya