PRN Ngawi | Sebuah kegiatan bertajuk Visualisasi Gerak Tari digelar di Gedung Musium Trinil Ngawi yang terletak di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Acara ini resmi dibuka oleh Kepala Bidang Kebudayaan, Cita Maharani, sebagai bentuk upaya memperkenalkan destinasi wisata edukatif Musium Trinil kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Acara tersebut dihadiri oleh berbagai tamu undangan, termasuk perwakilan dari Korwil Pitu, Korwil Paron, Korwil Kedunggalar, serta Korwil Ngawi. Sebanyak 120 peserta dari tingkat Sekolah Dasar (SD) turut ambil bagian dalam kegiatan ini, masing-masing didampingi oleh guru pendamping. Selain itu, tiga orang juri profesional turut dilibatkan untuk menilai penampilan para peserta.
Visualisasi Gerak Tari ini menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan Musium Trinil sebagai salah satu ikon wisata budaya dan sejarah di Kabupaten Ngawi. Dengan melibatkan anak-anak SD, kegiatan selama 2 hari Senin selasa tanggal. 23-24 -2025, ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini. “Ini adalah langkah awal agar anak-anak mengenal budaya kita sendiri,” ujar Daut, salah satu staf Kebudayaan Kabupaten Ngawi.
Dalam kegiatan ini, pelatihan tari diberikan oleh tiga seniman tari yang sudah dikenal luas di masyarakat Ngawi, yakni Mas Imam, Mas Ageng, dan Mbak Mei. Ketiganya membimbing para peserta dalam memvisualisasikan gerak tari yang terinspirasi dari kekayaan budaya lokal. Pendekatan edukatif ini tidak hanya memperkenalkan seni tari, tetapi juga menyisipkan nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal.
Soejono, salah satu staf Kebudayaan, juga menyampaikan kilas balik sejarah Musium Trinil. Ia menuturkan bahwa cikal bakal museum ini berawal dari tokoh lokal Mbah Wiro Raharjo, atau yang lebih dikenal sebagai Wiro Balung, yang sejak tahun 1967 gemar mencari fosil di sepanjang Bengawan Solo. Temuan-temuan tersebut kemudian menjadi cikal bakal koleksi museum.
Perkembangan Musium Trinil terus berlanjut. Pada tahun 1979, museum ini telah tercatat di data Provinsi Jawa Timur, dan dua tahun kemudian, pada 1981, gedung museum mulai dibangun oleh Dinas Cipta Karya. Kemudian, pada tahun 1991, Musium Trinil diresmikan oleh Gubernur Soelarso, menjadikannya sebagai destinasi wisata sejarah yang resmi dan representatif.
Kini, Musium Trinil Ngawi tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga telah menarik perhatian masyarakat internasional. Dengan adanya kegiatan seperti Visualisasi Gerak Tari, potensi wisata edukatif ini semakin diperkuat, dan diharapkan mampu mendorong kunjungan wisata sekaligus pelestarian budaya lokal di masa depan.(Jatmiko)


