Oleh : Ahmad Syafii
Sudah jamak lumrah bagi manusia yang ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Pencipta dengan predikat insan kamil, golongan kharu ummah (umat terbaik) dan berprestasi jika dibanding dengan golongan mkhluk lain selain manusia itu sendiri. Perangkat diri insan kamil adalah berupa cipta, rasa dan karsa sebagai perisai kemulyaannya. Namun ada perangkat lain yang diluar kesadaran manusia itu sendiri bahwa hal tersebut juga lekat pada diri setiap insan. Perangkat lain tersebut adalah khilaf (salah) dan lupa sehingga potensi yang sering dijumpai oleh manusia adalah kesalahan dan pelupa yang kelak akan membobol perisai kemulyaan.
Cipta merupakan satu dari tiga perangkat kemulyaan manusia yang dengannya setiap individu dapat mereka-reka sehingga memunculkan sebuah ide dan gagasan serta formulasi yang cemerlang untuk kelestarian dunia dan isinya.
Siapapun dengan gampang akan berucap yang sama ketika ditanya tentang pernak-pernik, seluk-beluk dan polah-tingkah yang berwarna warni corak ragamnya.
Semua itu dilakukan dalam kerangka kelestarian alam sebagai manifestasi diri dari Khalifatullah fi al ardl, terlepas kemudian menjadi dalih atau tidak hal tersebut kembali kepada personal masing-masing.
Artinya bahwa semua tergantung kepada maksud dan tujuannya sehingga tak ada yang mengetahui kecuali dirinya sendiri, sebab dalamnya lautan bisa diselami namun dalamnya hati seseorang hanya diri sendiri yang mengetahui. Cipta ini berpangkal pada akal pikiran sehingga dapat mempengaruhi tindakan penetrasi. Maka berfikir ulang perlu dilakukan untuk mereview hasil pola pikir sudah tepat atau tidaknya dalam berlogika.
Kemudian rasa; rasa ini merupakan dua dari tiga perangkat kemulyaan dan kelebihan manusia. Sebab dengan rasa manusia dapat mengenali segala sesuatu yang ada dibelahan dunia ini. Mulai dari rasa manis, legit, enak, gurih, nikmat, bahagia, syahdu, indah, gelak dan tawa serta segala tetek bengek yang memesonakan.
Begitu juga rasa sebaliknya seperti pahit, getir, pedih, perih, sedih, merana, sengsara, jerit tangis dan segala bentuk kenistaan dunia, semuanya manusia dapat merasakan karena perangkat rasa yang timbul dari dalam hati tersebut. Hal ini telah dirasakan semenjak manusia dilahirkan sehingga tangis dapat dikatakan bentuk gambaran lain dari sebuah rasa yang didalamnya terdapat dua kategori dan saling berlawanan, yakni pahit manis, sedih gembira, tinggi rendah, kaya miskin, sengsara nikmat dan lain sebagainya. Semua hal tersebut mulai dirasakan oleh manusia sejak kecil.
Dengan mengalami dan merasakan tersebut manusia diproyeksikan agar dapat belajar tentang apa yang pernah dialami untuk menjadi pengingat dan berhati-hati serta tidak ceroboh dalam segala hal. Seperti misalnya rasa sakit yang ketika diri merasa kesakitan maka jangan sampai terulang dan atau menimpakan kepada selain dirinya, karena telah pernah merasakan rasa tersebut. Rasa ini timbul dan berpusat pada hati, oleh karenanya orang tua selalu berpesan kepada anaknya untuk berhati-hati kapanpun dan dimanapun artinya gunakan hati dalam meninjau segala sesuatu atau kejadian demi kejadian agar tidak salah langkah dan berakibat cidera.
Selanjutnya adalah karsa; Karsa ini sebagai buah dari cipta dan rasa artinya dari olah pikir dan perasaan di hati sehingga ketika keduanya seirama akan melahirkan tindakan dalam bentuk karsa (keinginan, kehendak, kemauan). Irama cipta dan rasa yang bersinergi akan melahirkan tindakan yang berafiliasi kebermanfaatan dan kemaslahatan (positif) secara umum, namun jika tidak, akan dapat berakibat kepada ketidakbaikan (negatif) sehingga sering kali disebut nafsu, angakara, murka dan sejenisnya. Karena antara hati (rasa) dan pikiran (cipta) tidak ketemu, walhasil dampaknya adalah kerusakan.
Pertanyaannya adalah dimana letak demografi bahwa manusia merupakan insan kamil, khairu ummah tadi. Iya pembentukan awal tetap berlaku sebagai khoiru ummah, namun evolusi kepribadian sedang terjadi akibat abrasi potensi lain yakni khilaf (salah) dan lupa sehingga menggerus predikat insan kamil baik apatah terdapat peran unsur dari luar diri pribadi atau dari dalam diri sendiri itu hanya sebuah proses, namun yang pasti kata Allah Swt. dalam al-Quran Surat al-Alaq ayat 6-7 Kallaa inna al insaana layathghaa. An Ra-ahustaghnaa” Artinya;
“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena melihat dirinya telah lebih cukup”.
Maka disitulah khilaf dan lupa akan bercokol dan tumbuh sebagai teknologi virus pembobol perisai kemulyaan.

