23.8 C
Mojokerto
BerandaOPINIASAS, TEORI DAN JENIS-JENIS PEMBARENGAN DALAM HUKUM PIDANA

ASAS, TEORI DAN JENIS-JENIS PEMBARENGAN DALAM HUKUM PIDANA

Oleh:

Iskandar Laka, S.H., M.H.

Dosen FH Uniyos Sby dan Penasehat Hukum PRN.

 

Ruang Opini Hukum kali ini kita membahas tentang Asas, Teori dan jenis-jenis pembarengan dalam hukum pidana dan sistem penjatuhan pidananya.

Istilahnya “Samenloop” (CONCURSUS)

Adakalanya seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus sehingga menimbulkan masalah tentang penerapannya. Kejadian yang sekaligus atau serentak tersebut disebut samenloop yang dalam bahasa Belanda juga disebut samenloop van strafbaar feit atau concursus.

Ilmu hukum pidana mengenal 3 (tiga) Jenis concursus yang juga disebut ajaran, yakni sebagai berikut.

  1. Concursus idealis (eendaadsche samenloop), terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan dan ternyata satu perbuatan tersebut melanggar beberapa ketentuan hukum pidana.
  2. Concursus realis (meerdaadsche samenloop), terjadi apabila seseorang sekaligus merealisasikan beberapa perbuatan.
  3. Perbuatan lanjutan (voortgezette handeling), terjadi apabila seseorang melakukan perbuatan yang sama beberapa kali, dan di antara perbuatan-perbuatan itu terdapat hubungan yang sedemikian eratnya sehingga rangkaian perbuatan itu harus dianggap sebagai perbuatan lanjutan.

Ketiga hal di atas merupakan suatu hal yang rumit dan sering menimbulkan perdebatan dalam penanganan perkara pidana. Agar lebih jelas, perlu pembahasan secara rinci.

Beginilah Mekanisme Penjatuhan Pidana Pembarengan Perbuatan

  1. Verscherpte Absorbsi Stelsel – Sistem Hisapan yang diperberat digunakan terhadap Pembarengan Perbuatan antara beberapa kejahatan yang masing-masing diancam dengan pidana pokok yang sama jenisnya. Hukuman yang diberikan adalah dijatuhi satu pidana saja dan maksimum pidana yang dijatuhkan itu ialah jumlah maksimum pidana yang diancamkan terhadap tindak pidana yaitu tetapi tidak boleh lebih dari maksimum pidana yang terberat ditambah 1/3.
  2. Het gematigde Cumulative Stelsel – Sistem Kumulasi Terbatas digunakan terhadap Pembarengan Perbuatan antara dari beberapa kejahatan yang diancam pidana pokok yang tidak sama jenisnya, dan hukuman yang dijatuhkan terhadap masing-masing kejahatan itu dijatuhi pidana sendiri-sendiri pada pembuatnya tetapi jumlahnya tidak boleh lebih berat dari maksimum pidana yang terberat ditambah 1/3.
  3. Het Zuivere Cumulative Stelsel – Sistem Kumulasi Murni digunakan terhadap Pembarengan Perbuatan antara kejahatan dengan pelanggaran dan juga terhadap Pembarengan Perbuatan antara pelanggaran dengan pelanggaran.

Demikian Pembahasan kita kali ini diruang OH PRN, Semoga menambah wawasan pengetahuan tentang hukum pidana positif yang diterapkan APH pidana di Indonesia dan bermanfaat bagi pembaca setia PRN.

- Advertisement -
“fashion”

Sedang Hangat

Berita Menarik Lainnya