23.8 C
Mojokerto
BerandaHUKUMCukup Hadiah 3 Bulan Pidana Pembinaan Bagi Pelaku Kekerasan Sampai Meninggal Dunia...

Cukup Hadiah 3 Bulan Pidana Pembinaan Bagi Pelaku Kekerasan Sampai Meninggal Dunia Santri Pondok Ammanatul Ummah  

PRN MOJOKERTO | Perjuangan yang sangat luar biasa bagi 5 pelaku pengeroyokan atau kekerasan terhadap santri pondok pesantren Ammanatul Ummah Pacet asal Lamongan Galang Tatkaryaka Raisaldi {GTR} (14) pada 21/10/2021, pelaku hanya menerima ganjaran hukuman pidana pembinaan selama tiga bulan. 25/4/22.

Diruang sidang Candra Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto. Ketua Majelis Hakim Sunoto memulai persidangan sekitar pukul 12.15 WIB dengan agenda pembacaan keputusan,

Dok…dok…dok… Ketua Majelis Hakim Sunoto memutuskan  para pelaku ini terbukti bersalah melakukan tindak kekerasan terhadap GTR hingga membuatnya meninggal dunia. Sunoto juga memberikan hukuman kelima anak tersebut dengan hukuman pidana pembinaan selama tiga bulan di LKSA Pacet. Sesuai Pasal 80 UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Hal ini juga dibenarkan oleh Kuasa hukum para pelaku Ahmad Muhlisin. Sesuai dengan sistem peradilan anak, jika para pelaku kekerasan terhadap GTR ini tidak dipidana penjara melainkan hukuman pembinaan.

“Jadi para pelaku ini tetap bisa melanjutkan pendidikannya,” ucapnya.

Kasus ini terungkap saat orang tua GTR menemukan kejaganggalan dalam kematian anaknya di Pondok Pesantren di Mojokerto pada Kamis 14 Oktober 2021. Ayah korban beranggapan jika putranya meninggal karena dianiaya.

Setelah melalui proses penyidikan, sebanyak lima santri Pondok Pesantren (Ponpes) di Mojokerto diserahkan penyidik ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto, Selasa (25/1/2022). Mereka diduga melakukan penganiayaan GTR (14) santri asal Lamongan hingga meregang nyawa.

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Kabupaten Mojokerto, Ivan Yoko Wibowo mengatakan jika berkas perkara kasus yang menewaskan Santri asal lamongan ini sudah dinyatakan lengkap oleh Kejari pada 6 Januari kemarin.

Sebanyak lima santri yang masih dibawah umur, ditetapkan sebagai pelaku penganiayaan yang terjadi pada 13 Oktober 2021 ini.

“Empat anak masih berumur 16 tahun, sedangkan satunya menginjak usia satu tahun,” ucapnya pada wartawan di ruangannya, Selasa (25/1/2021).

Para pelaku penganiayaan santri ponpes ini, lanjut Ivan, semuanya berasal dari luar Kabupaten Mojokerto.

Keputusan hakim untuk menjatuhi hukuman 3 bulan pidana pembinaan atas lima pelaku kekerasan di Pondok Pesantren (Ponpes) Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto rupanya sudah sesuai dengan tuntutan yang dilayangkan Jaksa Penuntut Umum

Di kesempatan berbeda Aditya Nugraha, S.H. selaku Ketua LBH PRN berpendapat bahwa sangat baik putusan yang diambil oleh Hakim Sunoto karena lebih mempertimbangkan pembinaan terhadap pelaku yang dibawah umur, namun disisi lain bagaimana dengan sangsi yang diberikan kepada pengasuh pondok Ammanatul Ummah atas kelalaiannya sehingga terjadi korban meninggal didalam Pondok ? Hal ini yang tidak pernah disinggung dalam berbagai pemberitaan.

Lanjut Ketua LBH PRN {Pembela Rakyat Negeri} mengapresiasi bahwa Putusan hakim Sunoto ini terbilang luar biasa dan patut untuk dijadikan referensi terhadap perkara-perkara yang melibatkan anak dibawah umur dikemudian hari, pasalnya perkara berat seperti halnya pengeroyokan atau kekerasan yang dilakukan beberapa orang sampai korbannya meninggal saja cukup diganjar 3 bulan hukuman pidana pembinaan, apalagi perkara lain yang lebih ringan. Kita lihat saja nanti apakah Tuntutan jaksa dan Keputusan Hakim yang kebetulan sama ini, benar-benar didasari pertimbangan pelaku dibawah umur dan harus dilakukan pembinaan yang maksimal ? Pungkas Aditya Nugraha, S.H. selaku Ketua LBH Pembela Rakyat Negeri. {Red}.

- Advertisement -
“fashion”

Sedang Hangat

Berita Menarik Lainnya