PRN Ngawi – Beragam corak dan cara dari setiap desa di wilayah Ngawi dalam memperingati hari berdirinya sebuah desa atau yang di kenal dengan bersih desa. Salah satu yang dilakukan warga desa Dinden, Kecamatan Kwadungan Ngawi mempunyai cara yang unik saat melakukan nyadran (bersih desa).
Beberapa waktu lalu warga desa Dinden mulai pagi berbondong-bondong menuju makam desa setempat. Kehadiran seluruh warga desa tersebut dalam rangka berdoa bersama di makam para leluhur maupun sanak saudara yang telah meninggal.
Acara yang unik tersebut dipimpin langsung oleh sesepuh desa.
“Ini adalah salah satu wujud cara bersyukur pada ALLAH yang telah memberikan nikmat didunia ini,” jelas sesepuh desa Darto saat ditemui Jurnalis Pena Rakyat News
Dan agenda tahunan tersebut merupakan salah satu cara melestarikan kebudayaan Jawa yang selalu dilakukan oleh warga desa setempat semenjak puluhan tahun silam.
Selain berdoa para warga desa tersebut juga membawa nasi untuk selamatan sebagai wujud dari keikhlasan dalam bersedekah. Sebab setelah dipimpin doa oleh sesepuh para warga tersebut melanjutkan dengan berdoa disetiap makam para leluhurnya maupun saudaranya.
“Selain untuk melestarikan budaya Jawa juga simbol dari cara warga dalam bersedekah,” urainya.
Namun semenjak adanya dana desa yang digelontorkan dari pemerintah pusat juga menambah dari pakem atau tata urutan dari pelaksanaan bersih desa tersebut. Sebab kalau dahulu hanya berdoa bersama di makam desa yang dilanjutkan dengan hiburan tarian gambyong atau cokekan. Dan setelah adanya anggaran dari pemerintah pusat dilakukan penambahan hiburan dalam bentuk pagelaran wayang semalam suntuk.
Sedangkan dengan adanya hiburan tambahan tersebut tetap tidak mengurangi nilai kesakralan dari acara bersih desa yang digelar.
“Setelah adanya dana desa untuk hiburan ditambah pertunjukan wayang setiap kali diadakan nyadran (bersih desa),” terang perangkat desa Dinden Suroso pada jurnalis PRN

