26 C
Mojokerto
BerandaHUKUMJurnalis Pasuruan Raya Lakukan Aksi Solidaritas Kutuk Kelakuan Oknum Aparat Terhadap Nurhadi

Jurnalis Pasuruan Raya Lakukan Aksi Solidaritas Kutuk Kelakuan Oknum Aparat Terhadap Nurhadi

PRN PASURUAN I Jurnalis Pasuruan Raya yang tergabung dalam Komite Aksi Perlawanan Pers atas  Arogansi Aparat (KEPPARAT) lakukan aksi solidaritas kutuk tindakan kekerasan yang dialami oleh Jurnalis Tempo, Nurhadi. Selasa (30/3/2021).

Jurnalis Tempo, Nurhadi, diketahui mengalami kekerasan fisik dan intimidasi oleh oknum aparat saat melakukan tugas peliputan pada hari Sabtu 27 Maret 2021.

Terkait hal ini, KEPPARAT Menyatakan sikap dan mengutuk keras tindakan yang dilakukan oknum aparat terhadap Nurhadi. KEPPARAT Yang terdiri dari jurnalis dan LSM Pasuruan raya bergerak dari Paseban Alun alun Bangil menuju jalan raya Untung Suropati yaitu di depan Alun alun.

“Kami mendesak POLRI menindak tegas Oknum Aparat yang terlibat penghalangan, kekerasan dan intimidasi. Atas penganiayaan terhadap wartawan harus ditindak tegas acara Hukum yang berlaku,” Ungkap Hanry Sulfianto ketua Jurnalis Pasuruan Bersatu (AJPB) Selasa 30 Maret 2021.

Wartawan senior Pasuruan Ari Yunianto menegaskan bahwa saat ini adalah era kemerdekaan. Namun demikian tampaknya masih ada oknum aparat yang berupaya menerapkan pengekangan dengan menggunakan pola Orde Baru.

“Kita belum merdeka, diskriminasi masih ada bahkan pelanggaran Hukum yang dialami oleh wartawan disaat melakukan tugas kerjanya sebagai Jurnalistiknya,”.Ungkap Ari Yunianto Selasa 30 Maret 2021.

Terkait hal ini, Direktur Pusat Studi Advokasi dan Kebijakan (PUSAKA) Lujeng Sudarso angkat bicara. Kepada Media, ia mengatakan bahwa di negara yang Demokratis seperti Indonesia,  Oknum Aparat sebaiknya tidak diberi ruang untuk melakukan kekerasan terhadap insan pers.

Bukan hanya kepada insan Pers namun juga para aktivis yang vokal menyampaikan sorotan penyelewengan.

“Aparat jangan sampai sebagai Anjing penjaga modal, Aparat harus berpihak kepada kepentingan Rakyat. Hentikanlah Kekerasan terhadap wartawan dan aktivis kalau tidak ingin kembali kepada kelakuan atau watak Orde Baru,” Ungkap Lujeng.

Pria yang merupakan Aktivis “98 mengatakan bahwa dirinya pun pernah mengalami kekerasan Aparat yang memihak terhadap kekuasan pada saat itu.

“Setelah Reformasi masih ada Kekerasan kekerasan yang di lakukan Aparat. Kepada Kepolisian dan TNI kami meminta mereka untuk mengevaluasi keperpihakan, Keperpihakan adalah terhadap Rakyat, Karena Aparat bukan merupakan Kapital workshop dan bukan “Anjing” penjaga modal,” Ungkap Lujeng Sudarso. (Jae)

- Advertisement -
“fashion”

Sedang Hangat

Berita Menarik Lainnya